Pengalaman baru, baru saja dimulai.
Menyadari apa yang dulu menjadi sebuah kebiasaan akhirnya dipaksa untuk dibiasakan kembali.
Dalam rangka 100 tahun Perkumpulan Strada, kantor pusat Perkumpulan Strada mengadakan lomba menulis opini dengan tema Sekolah Modern, Berakar pada Budaya, dan Menghidupi Nilai-Nilai Dasar Strada sampai Akhir Hayat.
Perlombaan ini dimulai dari seleksi perunit masing-masing sekolah. Di Perkumpulan Strada sendiri ada 19 sekolah tingkat SMP yang tersebar 4 cabang di 3 provinsi yang berbeda. Kemudian kepala sekolah memilih 2 perwakilan guru yang nantinya akan dipilih 1 oleh kepala cabang yang nantinya akan 'bertempur' dengan SMP-SMP Strada yang lainnya.
Tulisan yang saya buat bukanlah hal yang luar biasa, hanya keresahan hati sebagai seorang guru Bimbingan Konseling khususnya. Materi pertama yang saya ambil mengenai perilaku self-harm pada remaja yang sudah cukup saya kuasai karena sudah menjadi materi penelitian saya dalam ujian makalah kenaikan golongan sebelumya, bahkan sudah saya lakukan intervensi yang dapat dijadikan sebagai salah satu pencegahan dalam perilaku self-harm. Materi ini lolos di tingkat unit dan terpilih menjadi perwakilan sekolah.
Cukup yakin karena materi ini memang sudah betul-betul saya kuasai dan mendapat apresiasi ketika ujian makalah.
Selanjutnya dalam 'pertempuran' saya mengambil materi Perundungan. Agak lain karena saat itu saya tidak lagi berfokus pada pelaku dan korbannya. Namun pihak yang menjadi saksi ketika ada perilaku bullying terjadi. Hal ini menjadi kegelisahan sekaligus kekhawatiran saya sebagai guru BK dan sudah pasti semua pihak dalam dunia pendidikan. Perundungan terjadi tidak hanya karena kasusnya saja tetapi juga karena kurangnya dukungan dari teman-teman atau pihak-pihak yang menyaksikan perilaku tersebut.
Saksi-saksi perundungan memilih untuk diam karena biasanya mereka takut jika mereka yang akan menjadi korban perundungan selanjutnya.
Layaknya lingkaran setan saksi-korban-pelaku mereka akan atau pernah menjadi korban perundungan.
Kekhawatiran ini akhirnya saya tuangkan dalam tulisan tersebut dan berharap akan ada budaya-budaya baru yang muncul untuk menghentikan perundungan.
Salah satu intervensi yang saya usulkan adalah The Stand-Up Project, tentu saja project ini saya dapatkan dari literasi yang saya baca sebelumnya dan baik jika dapat diaplikasikan di setiap sekolah.
Dari yang saya pahami The Stand-Up Project adalah sebuah project dimana anak-anak dilatih untuk memiliki rasa empati yang tinggi sehingga mampu dan berani menjadi saksi yang aktif. Saksi yang dapat mencegah bahkan menggagalkan tindak perundungan di sekolah. Sehingga project tidak hanya semata-mata sebagai project saja tetapi akan menjadi budaya terus tertanam dan berakar di setiap pikiran, perkataan dan perbuatan siswa-siswa di Perkumpulan Strada sehingga nilai kepedulian semakin kuat teriilhami.
Tiada sangka tulisan ini mampu meraih juara 2, sebetulnya saya tidak mengharapkan apa-apa dari apa yang saya tulis. Cukup jika mampu menginspirasi orang-orang yang membacanya.
Bolehlah sekali ini saya bangga dengan pencapaian saya. Hehehe.