Tanyakanlah arti kebebasan pada kawanan kuda liar.
Otot mereka kokoh akibat kecintaan mereka pada berlari, bukan karena mengantar seseorang ke sana kemari. Kandang mereka adalah alam, bukan papan yang dipasangkan. Di punggungnya terdapat cinta, bukan pelana yang disandangkan dengan paksa.
Hidup mereka indah dalam keinginan bebas. Hari ini ke padang, esok lusa ke gunung, tak ada yang bingung. Kebimbangan tak pernah hadir karena mereka tahu apa yang dimau. Yakin apa yang diingini. Lari mereka ringan karena tak ada yang menunggangi.
Kelelahan akan berganda apabila kita dihela. Waktu akan mengimpit apabila kita dikepit. Dan suara hati akan mati jika dikebiri.
Larilah dalam kebebasan kawanan kuda liar. Hanya dengan begitu, kita mampu memperbudak waktu. Melambungkan mutu dalam hidup yang cuma satu. (Kuda Liar (1998) - Dee).
Sepenggal prosa milik Dewi Lestari di atas mampu mengingatkanku berkali-kali mengenai perjuangan Kuda. Kaki kokoh yang siap menerjang rumput-rumput basah hingga gundukan-gundukan semak belukar. Hati yang teguh bahwa apa yang ada di depan mata bukanlah suatu hal yang mampu melumpuhkan tekat mereka begitu saja.
Aku, Ken Sulanjari memulai sebuah kisah baru yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. aku bergabung dalam sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Mahasiswa Pecinta Alam Sanata Dharma (Mapasadha).
Aku dan sodara-sodaraku masuk menjadi shio Kuda.
Menjadi bagian dari Kuda bukanlah hal yang bukan bagi kami, khususnya bagi diriku sendiri. awalnya kami masuk dengan jumlah 20 -an orang. seiring berjalannya waktu dan dinamika yang kami alami, minggu terakhir ini kamu tinggal 9 orang :
Victor a.k.a Tapel
Valli a.k.a Kosan
Yahya a.k.a Turan
Halim a.k.a Rawuk
Wati a.k.a Sisih
Ressa a.k.a Ranja
Anggie a.k.a Sandel
Igan a.ka Ciran
Ken a.k.a Telud (aku)
hanya tinggal kami masih dan akan terus bertahan hingga akhir. kami yang akan meneruskan harapan dan mimpi sodara-sodara kami yang mungkin tertunda.
kami akan terus berjuang buat mereka dan buat diri kami sendiri.
bahwa apa yang sudah kami mulai harus bisa kami akhiri.
sekian.
Otot mereka kokoh akibat kecintaan mereka pada berlari, bukan karena mengantar seseorang ke sana kemari. Kandang mereka adalah alam, bukan papan yang dipasangkan. Di punggungnya terdapat cinta, bukan pelana yang disandangkan dengan paksa.
Hidup mereka indah dalam keinginan bebas. Hari ini ke padang, esok lusa ke gunung, tak ada yang bingung. Kebimbangan tak pernah hadir karena mereka tahu apa yang dimau. Yakin apa yang diingini. Lari mereka ringan karena tak ada yang menunggangi.
Kelelahan akan berganda apabila kita dihela. Waktu akan mengimpit apabila kita dikepit. Dan suara hati akan mati jika dikebiri.
Larilah dalam kebebasan kawanan kuda liar. Hanya dengan begitu, kita mampu memperbudak waktu. Melambungkan mutu dalam hidup yang cuma satu. (Kuda Liar (1998) - Dee).
Sepenggal prosa milik Dewi Lestari di atas mampu mengingatkanku berkali-kali mengenai perjuangan Kuda. Kaki kokoh yang siap menerjang rumput-rumput basah hingga gundukan-gundukan semak belukar. Hati yang teguh bahwa apa yang ada di depan mata bukanlah suatu hal yang mampu melumpuhkan tekat mereka begitu saja.
Aku, Ken Sulanjari memulai sebuah kisah baru yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. aku bergabung dalam sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Mahasiswa Pecinta Alam Sanata Dharma (Mapasadha).
Aku dan sodara-sodaraku masuk menjadi shio Kuda.
Menjadi bagian dari Kuda bukanlah hal yang bukan bagi kami, khususnya bagi diriku sendiri. awalnya kami masuk dengan jumlah 20 -an orang. seiring berjalannya waktu dan dinamika yang kami alami, minggu terakhir ini kamu tinggal 9 orang :
Victor a.k.a Tapel
Valli a.k.a Kosan
Yahya a.k.a Turan
Halim a.k.a Rawuk
Wati a.k.a Sisih
Ressa a.k.a Ranja
Anggie a.k.a Sandel
Igan a.ka Ciran
Ken a.k.a Telud (aku)
hanya tinggal kami masih dan akan terus bertahan hingga akhir. kami yang akan meneruskan harapan dan mimpi sodara-sodara kami yang mungkin tertunda.
kami akan terus berjuang buat mereka dan buat diri kami sendiri.
bahwa apa yang sudah kami mulai harus bisa kami akhiri.
sekian.