"Tahukah, sayang. Jika kau melemparkan sebutir telur dari atas awan, saat jatuh menimpa tanah sedikit pun telur itu takkan retak sepanjang kau punya sesuatu! Dan tahukah aku apakah sesuatu itu? Sesuatu itu adalah cinta!"
"Kalau begitu cinta itu seperti kasur, ya Kek? Yang saat Zalaiva loncat-loncat di atasnya tidak terasa sakit?"
"Bukan. Cinta itu tidak seperti kasur, Sayang"
"Jadi bagaimana ia membuat telur itu tidak pecah?"
"Karena cinta itu akan memberikan sepasang sayap yang indah kepada telur itu, Sayang"
"Jadi cinta itu seperti burung!"
"Ya. Seperti burung, ia akan membawamu terbang ke mana saja. Membuatmu bisa memandang seluruh isi dunia dengan suka cita, Bahkan, terkadang kau merasa seluruh dunia ini hanya milikmu seorang."
***
"Kakek, apakah cinta itu menyenangkan seperti musik?"
"Ya. Ia seperti musik, tetapi cinta sejati akan membuatmu selalu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti"
***
"Kakek, apakah cinta itu menakutkan seperti hantu?"
"Ya, cinta sejati seperti hantu. Semua orang membicarakannya, tetapi sedikit sekali yang benar-benar pernah melihatnya"
***
"Kakek, apakah cinta sesejuk air sungai ini?"
"Ya, cinta sejati memang seperti air sungai, sejuk menyenangkan, dan terus mengalir. Semakin lama semakin besar karena semakin lama semakin banyak anak sungai yang bertemu. Begitu juga cinta, semakin lama mengalir semakin besar batang perasaannya."
"Kalau begitu ujung sungai ini pasti ujung cinta itu?"
"Cinta sejati adalah perjalanan, Sayang. Cinta sejati tak pernah memiliki tujuan."
"Kakek, apakah cinta itu memberi, seperti yang kakek lakukan saat memberi makan ayam-ayam?"
"Tidak. Karena kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun memiliki perasaan cinta, tetapi kau takkan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi"
***
"Kakek, dari kota manakah cinta datang?"
"Tidak ada yang tahu sayang. Cinta sejati datang begitu saja, tanpa satu alasan pun yang jelas!"
"Lalu dari mana Zalaiva tahu itu cinta?"
"Kau akan tahu ketika ia datang. Tahu begitu saja. Dulu orang-orang menyebutnya cinta pada pandangan pertama. Cinta sejati selalu datang pada pandangan pertama. Cinta sejati selalu datang pada pandangan pertama. Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat. Cinta sejati selalu datang pada orang-orang yang berharap berjumpa padanya dan tak pernah berputus asa."
***
"Kelak saat kau dewasa, kau akan melihat banyak sekali orang-orang yang begitu saja jatuh cinta. Bagi mereka, cinta seperti memungut bebatuan di pinggir sungai. Banyak bertebaran. Bosan bila dilemparkan jauh-jauh. Kurang, tinggal masukkan batu yang lain ke dalam kantong lainnya. Apakah perangai seperti itu disebut cinta? Tentu saja bagi mereka jga cinta. Tetapi ingatlah selalu Zalaiva-ku, cinta sejati tak seserdehana bebatuan."
"Suatu saat jika kau beruntung menemukan cinta sejatimu. Ketika kalian saling bertatap untuk pertama kalinya, waktu akan berhenti. Seluruh alam semesta alam takzim menyampaikan salam. Ada cahaya keindahan yang menyemburat, menggetarkan jantung. Hanya orang-orang beruntung yang bisa melihat cahaya itu, apalagi berkesempatan bisa merasakannya."
***
Diambil dari buku "Sejuta Rasanya" karya Tere Liye.