Senin, 13 Mei 2019

(Prolog) Babak Baru

Akhirnya kehidupanku sebagai mahasiswa abadi sudah selesai di awal tahun 2018, meski secara resmi aku dinyatakan lulus pada akhir tahun 2017. Tapi yaudahlah ya, sebagai mahasiswa pasrahan ya aku harus menurut kata dosen yang harus mengurus ini itu di kantor-kantor universitas dan fakultas.

Tahun 2018 merupakan babak baru dari mahasiswa abadi. Siapa sangka kegundahan tidak hanya berhenti sampai pada skripsi (skripsi ngga ada apa-apanya masbro dan mbabro, sumpah dah), justru makin surem dan tersiksa. Kondisi penuh pergulatan batin -antara tidak punya duit sama sekali, tapi pengen pergi dan pacaran terus karena sudah merasa bebas, tapi males ditanyain "udah dapet kerja belom?" atau "kerja dimana sekarang?"-. Tapi aku memang anaknya positif banget yang tidak terlalu ambil pusing akan perhelatan batinku, asal saya bahagia. Tapi percaya deh, dengan membuat hati bahagia menjadikan kita sebagai pribadi yang mantuuul abis.

Aku sebagai pengangguran yang tidak sombong berusaha mencari pekerjaan yang baik. Targetku pada saat itu adalah sebelum wisuda aku harus sudah punya pekerjaan supaya bisa membayar biaya wisuda sendiri. Pertama kali ikut interview di sebuah perusahaan di Jogja, malemnya aku latihan ngomong dan menebak-nebak pertanyaan apa aja yang sekiranya muncul sampai pakai baju apa biar keliatan seperti lulusan Psikologi yang ketok pinter padahal yho ora. Tapi, Tuhan masih berkata lain, aku gagal. Tapi Ken adalah pribadi yang positif yang menilai kegagalan adalah jalan menuju kesuksesan (pada awalnya). Interview kedua di sebuah pabrik tekstil ternama di Ungaran, Semarang. Sebagai pengangguran yang tau diri tentu saja aku tidak menolak untuk mengikuti tes dan interview disana. Namun masalah lain datang ketika aku ternyata tidak tau apa-apa soal jalan menuju Semarang selain ke-sotoy-anku untuk coba-coba menggunakan Map, namun aku urungkan niat tersebut karena aku takut tidak sampai sana yang ada malah nyasar hahaha. Hujan badai dan kabut tebal menemani perjalananku menuju (yang ku pikir my future) Ungaran bersama dengan Rizal pacar saya. Namun hasilnya gagal juga. Aku tetap pada pendirian positifku dan menilai kegagalan adalah jalan menuju kesuksesan.
 
Terhitung sudah 7 kali keluar masuk perusahaan dan masih ditolak juga. Lama kelamaan ke-positif-an dalam diriku memudar berubah menjadi kemeranaan dan membodoh-bodohkan diri sendiri.

Aku yang sudah sedih namun tetap punya keinginan untuk keluar dari zona pengangguran, berusaha semaksimal mungkin keluar masuk jobfair di Jogja. Mulai dari jobfair bagus sampai jobfair abal-abal.
Namun, Tuhan belum berkehendak aku cepet masuk kerja. Mungkin Tuhan masih pengen liat aku leyeh-leyeh dan tetep fokus leyeh-leyeh terlebih dahulu.

Sampai akhirnya aku wisuda dan merasa menyesal jika orangtuaku harus membayar sedemikian mevvah sederhana acara wisudaku. 

Setelah kegalauan wisuda berlalu, akhirnya aku datang ke jobfair yang diadakan oleh kampusku yang lebih banyak didominasi dengan lowongan menjadi guru. Aku yang tidak sombong, memasukkan banyak cv yang ku bawa termasuk ke beberapa sekolah dan sering menolak ikut test langsung di tempat karena memang tidak tertarik menjadi guru. 

Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain.......

Sabtu, 06 April 2019

Lelaki di Ujung Perjumpaan



Pilu Membiru - Kunto Aji


Akhirnya aku lihat lagi

Sederhana tanpa banyak cela
Wangimu
Berlalu
Akhirnya aku lihat lagi
Jemari mu yang bergerak bebas
Seiring
Tawamu
Tak ada yang seindah matamu

Hanya rembulan
Tak ada yang selembut sikapmu
Hanya lautan
Tak teregantikan
Oh...
Walau kita
Tak lagi saling
Menyapa
Akhirnya aku lihat lagi

Akhirnya aku temui
Oh...
Tercekat lidahku
Masih banyak yang belum sempat

Aku katakan
Padamu
Masih banyak yang belum sempat
Aku sampaikan
Padamu
Masih banyak yang belum sempat
Aku katakan
Padamu
Masih banyak yang belum sempat
Aku sampaikan
Padamu
Masih banyak yang belum sempatan
Aku katakan
Padamu
Masih banyak yang belum sempat
Aku sampaikan
Padamu
Tak ada yang seindah matamu

Hanya rembulan
Tak ada yang selembut sikapmu
Hanya Lautan
Tak tergantikan
Oh...
Walau kita
Tak lagi saling
Menyapa

Tidak ada yang spesial dari pertemuan kita di masa abu-abu, yang ku ingat kala itu kau adalah seorang bocah laki-laki pendiam dan dikelilingi banyak kawan. Sedangkan aku anak baru di lingkungan yang dan hanya memiliki satu teman.

Tidak ada yang spesial dari perkenalan kita di masa abu-abu, yang ku ingat kala itu kau adalah bocah berprestasi yang ditunjuk sebagai ketua OSIS. Sedangkan aku hanya pengurus seksi yang lain dan diam-diam mengagumimu.

Tidak ada yang spesial dari percakapan kita di masa abu-abu, yang ku ingat kau jarang berkata denganku. Namun tatap, senyum dan sapa sederhana membuatku semangat menjalani masa remajaku kala itu. 

Waktu beranjak semakin tinggi, aku selalu berdoa bahwa kita dapat dipertemukan kembali dalam satu alamater dan ternyata Tuhan mendengarnya. 

Kita kembali dipertemukan, kembali bertukar sapa dan senyum.

Semakin lama aku percaya bahwa rasa yang ku miliki sebuah perasaan sederhana yang tidak perlu dibalas olehmu. dan memang tidak. 

Terimakasih sudah menemani abu-abu dan jas alamamaterku dengan banyak suka dan duka. Terimakasih sudah menyempatkan waktu mendengarkan segala risauku.
Terimakasih sudah membantuku tertawa dengan kalimat-kalimat sederhana dan mungkin tidak lucu bagi sebagian orang.

Jika kelak kau membaca ini, aku hanya ingin mengucapkan banyak terimakasih sudah mengisi banyak lembaran kehidupanku. Maka, aku yakin kau sudah menemukan seseorang yang dapat kau syukuri keberadaannya. Demikian juga denganku.