kadang, rasa rindu itu hanya sanggup mengadu di baris gigimu. aku mengatakan selamat tinggal padamu, sedangkan batinku berbisik, selamanya aku akan memikirkanmu, mereka-reka hari pertemuan yang sempurna.
rasanya sangat ajaib meski aku sudah memperkirakannya berkali-kali. surat-surat itu tak mengubah apa pun. kau tetap pergi.
akan tetapi, aku tetap akan menunggu. mungkin aku telah sangat renta ketika kita kelak bertemu. pada hari ketika semua sakit dan kerinduan sudah menjadi masa lalu. tak penting lagi untuk dikenang. tetapi, aku tetap akan menunggu. biar hanya sisa dirimu yang akan kudapati. tak mengapa jika engkau kelak adalah lelaki tua berambut putih yang berusaha tetap bugar pada napasmu yang tertahan-tahan.
kelak, ketika anak-anak sudah berkelana sendiri-sendiri dan tak peduli kepada orangtuanya lagi. suatu hari jika hari-hari tinggal napas yang sulit, barangkali nasib akan sedikit berbaik hati mempertemukan kita lagi. lalu, kita akan saling menyapa seolah masa lalu tidak pernah ada apa-apa.
bisakah?
atau, sama dengan hari ini, bagimu aku tak berarti apa-apa lagi. tidak hari ini, atau bertahun-tahun nanti.
tetapi, pada air mata aku masih bisa bersyukur karena memikirkanmu. sebab, tanpa itu, aku tak akan pernah bisa menulis dengan jiwaku. sebab, setiap kata adalah bisikan kekangenan kepadamu. tidakkah kau menyadari seluruh otakku adalah engkau.
pada setiap kisah mengalir ada engkau disitu. pada setiap puisi panjang yang memuja cinta, engkau ada disana. ya Tuhan, alangkah kayanya aku karena cinta kepadanya. meski itu amat meremukkan pada saat yang sama.
aku berusaha merindukanmu dalam senyum. bahwa setiap kehidupan hanyalah pembagian peran. aku kebagian sesuatu yang tak terbayangkan. memikirakan seseorang sampai habis seluruh waktuku. meski sejak kanak-kanak dulu aku percaya, perasaan ini akan berumur sangat lama. bahkan, aku tak paham bagaimana bisa. aku telah mengetahui ini akan terjadi. bahwa aku akan sangat mengenangmu dan tidak akan pernah berubah perasaan itu.
menangis dan tersenyum pada waktu yang sama.
aku mencoba percaya, semustahil apapun, suatu hari engkau akan muncul dihadapanku. menyapaku, lalu merengkuhku dalam pelukmu. membisiki kata sakti di telingaku. aku tak pernah mengharapkan sesuatu melebihi itu.
dikutip dari novel Kinanthi terlahir kembali karya Tasaro G.K.
dikutip dari novel Kinanthi terlahir kembali karya Tasaro G.K.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar