Jumat, 13 Desember 2013

Kembali, curhat buat sahabat

"...Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam."

Sahabatku, usai tawa ini izinkan aku bercerita:
Telah jauh, ku mendaki sesak udara di atas puncak khayalan 
Jangan sampai kau di sana.
Telah jauh, ku terjatuh pedihnya luka di dasar jurang kecewa.
Dan kini sampailah, aku di sini...
Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku menanti seorang yang biasa saja.
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring sakit.
Yang sudi dekat, mendekap tanganku.
Mencari teduhnya dalam mataku.
Dan berbisik : "Pandang aku, kau tak sendiri,oh dewiku..."
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang itu saja kuinginkan
Sahabatku, bukan maksud hati membebani.
Tetapi...
Telah lama, kumenanti satu malam sunyi untuk kuakhiri.
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji untuk diam, duduk di tempatku.
Menanti seorang yang biasa saja segelas air di tangannya, kala kuterbaring sakit.
Menentang malam, tanpa bimbang lagi.
Demi satu dewi yang lelah bermimpi dan berbisik : "Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku..."
Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi. (Dee)


Bahwa apa yang aku rasakan saat ini buakan suatu yang mudah bagiku.
Aku dan kamu.
Sebuah ikatan yang nyaris tak dapat dianalogikan sebagai apapun.
Apakah sebuah persahabatan? Apakah ini semata keinginan untuk peduli? Atau sebuah persaudaraan? 
Aaaah.. Aku sudah terlalu jenuh dengan itu. Baiklah mungkin saat ini saja, aku ingin kembali bagaimana kita sebenarnya. Kamu sebagai kamu dan aku sebagai aku. Tidak ada akhiran apapun diantara kita. Oke. 

Rabu, 11 Desember 2013

semangat baru 11-12-2013 :D

Yap, hari ini sayapun akan menuliskan hal yang nggak kalah nggak pentingnya.
Karena hari ini tanggal 11-12-2013, jadi boleh dong kalo aku posting beberapa kata-kata untuk merayakan hari ini. (ngomong-ngomong udah ada yang ditembak gebetannya belom? oh. belom.)

hari ini Ujian Akhir Semester mata kuliah Metode Penelitian Kuantitatif, aku cuma baca-baca materi. cuma nangkep sedikit. Paginya aku belajar sama Audrey. Banyak yang dibahas tapi ga nyantol, dan ketika mengerjakan ujian tadi, hal-hal yang tadi dipelajari jadi ilang gitu aja. bluuurrr. entah kemana semua hal yang aku baca. mungkin aku harus mengubah cara belajar. kenapa nggak diubah dari dulu-dulu ya? kondisi, dek. aku lagi males, atau aku lagi stress mungkin sejenis itu ya. aku lagi males apa-apa (kecuali makan, tidur, boker). nggak mau apa-apa.

aku nggak punya tujuan apa-apa. aku nggak tau apa yang aku mau. aku selama ini tuh ngapain, aku bingung. motivasiku sebenernya apa, makin bingung.

aaaahh, jangan-jangan benar apa kata mas Angkrem (anggota Mapasadha), aku ini nggak punya motivasi ya kalo lagi ngerjain apa-apa. aku cuma ikut arus aja.
keinginanku dan kemampuanku aku buang sia-sia. yang harusnya aku tekuni karena aku menyukainya justru malah aku abaikan. harusnyaaa...aah. aku jadi bingung sama diriku sendiri. ruwet. mumet. bumpet. mampet. 

nah berhubung salah satu menuju kesuksesan adalah bertangungjawab. maka aku harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah aku ambil. oke. aku harus fokus kuss fokus. toh, disini aku nggak sendiri. ya kalopun dimarahin toh juga rame-rame. oh meeenn, aku barusan ngomong apa sih. fisikku nggak sama kayak mereka. oke oke jangan khawatir. kan udah atur jadwal jogging. ayo semangat. jangan sedih loh. sekiranya apa yang menghambat kamu harus kamu buang jauh-jauh (tapi jangan sembarangan, inget komitmen). baiklah. mulai hari ini harus mengeluarkan semangat yang baru. pikiran yang baru. yoook!!

Senin, 09 Desember 2013

"kita kan sodara"

kali ini aku akan mengisahkan sedikit tentang perjuanganku. tentu bukan perjuangan melawan orientasi tapi bagaimana aku berjuang melawan salah satu diantara orang-orang yang akan diorientasi. ya, sama denganku.
semua ini berawal dari liburan kala itu.

matanya.
hidungnya.
bibirnya.
pasir.
pantai.
deburan ombak.

kombinasi dari dua hal yang sama istimewanya dimataku siang itu. bahkan panas bukanlah halangan yang mampu membuatku berhenti memandang semua keindahan tersebut.

pasir-pasir yang menempel di pundaknya bukan hal yang menjijikan bagiku kalau itu adalah pundak miliknya.
indah. menyenangkan. kau tau kan bagaimana perasaanku kala itu. perpaduan yang tak terkira indahnya.

dan ketika aku menyadari lebih jauh. aku jatuh cinta di tempat yang salah dan kondisi yang salah.
ketika mengingat motivasi awal yang harus aku lakukan, bahwa kita dibentuk bukan untuk jatuh cinta sebagai kamu lelaki dan aku perempuan. kita jatuh cinta untuk menjadi saudara. ya. cukup dengan saudara.

awalnya semua berjalan dengan lancar. aku baik-baik saja dan kamu tak akan pernah mengetahuinya.
namun, aku benci dengan persaudaraan ini.
bukan aku dengan mereka, namuan aku benci menjadi saudaramu.
bahwa aku tidak akan pernah bisa menyampaikan ini semua padamu.
bahwa ini bukan tempat yang baik untukku membiarkan ini semua untuk terus berlanjut.
aku benci ketika kau berkata "kan kita sodara" sambil tersenyum seraya menepuk pundakku.
baiklah mungkin baiknya begini.
aku tidak akan pernah menyesali bergabung disini denganmu sebagai saudaraku yang perlu ku perjelas bahwa kamu tetap bukanlah saudaraku.
bila kau berkata begitu, baiklah. :)





ini fiksi loh ya teman-teman. tidak ada sangkut pautnya dengan apapun bila kamu berasumsi seperti itu. byee~