Minggu, 27 April 2014

teman kita adalah 'mahasiswa'

Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri untuk sekedar berbincang dengan teman lama di kolom chat. Bercerita mengenai lika-liku dunia mahasiswa, satu kalimat yang membuat saya  sedikit tersadar :

"Emang ngono si mereka teman kita yang adalah 'mahasiswa', kancaku ya pada bae kaya kue.. ya kui artine dewek kudu luwih sabar.. hehe"

>> memang seperti itu lah teman kita yang adalah 'mahasiswa', temanku ya juga sama aja.. ya itu artinya kita harus lebih sabar..hehe

Iya, memang benar.

Jumat, 25 April 2014

apakah hidup benar-benar memberikan pilihan?

selamat malam dunia.

rasanya sepi sekali malam ini, entah memang begitu atau pikiranku saja.
susah sekali membedakan di antara keduanya itu.
aku hidup pada realita atau aku hidup dalam pikiranku sendiri?

apakah hidup memberikan banyak pilihan?
yaah kecuali ketika kita dilahirkan dan ketika ketika kita meninggal.
ketika kita dilahirkan kita tidak dapat memilih dengan keluarga mana kita akan hidup, dengan keadaan seperti apa, apakah mereka akan menyayangi kita, apakah kita akan bahagia, apakah keluarga kita dari keluarga baik-baik?
sedangkan ketika kita meninggal kita tidak dapat menentukan kapan, dimana, dengan cara apa, dengan siapa kita akan meninggal nanti.

kenyataannya, pilihan tidak selalu muncul ketika kita menjalani kehidupan.
ketika kita masih kecil, kita tidak dapat memutuskan bagaimana jalan hidup kedua orang tua kita.
apakah mereka harus baik-baik saja, ataukah mereka suatu saat akan berpisah.
dan satu lagi yang perlu diingat, bahwa kita tidak akan pernah terlihat dewasa di mata mereka.

aku benci selalu menjadi anak kecil di mata mereka.
aku benci untuk menjadi penakut ketika aku harus berbicara.
aku benci ketika aku hanya mampu menuliskan kata-kata ini saja.
aku benci bahwa aku tidak memiliki keberanian apapun.

apapun itu, aku rasa semuanya akan baik-baik saja.
biar saja kali ini aku akan hidup dalam pikiranku sendiri.
meskipun keadaan tidak baik-baik saja, aku ingin dalam pikiranku adalah hal yang baik-baik saja.
biarkan apa yang aku lakukan, apa yang aku kerjakan selalu bisa membahagiakan siapapun yang benar-benar menyayangiku.

mari jalani hidup yang lebih bahagia bagi diri sendiri.
apa yang tidak membuatmu bahagia yaah itu sudah harus dimasukkan ke dalam tong sampah.
apa yang membuatmu berhenti melangkah harus kamu singkirkan.
kamu sendiri yang bisa membuat dirimu bahagia, Ken.

Rabu, 23 April 2014

surat minggu ini

Gombong, 23 April 2014


selamat malam publik..
sudah lama sepertinya saya tidak menambah tulisan dalam blog ini.
minggu ini, terhitung sejak tanggal 16 April 2014 yang lalu hingga hari ini cukup menyebalkan. sungguh.
banyak hal yang sudah saya lewatkan pada minggu ini.
beginilah ceritanya :

Rabu, 16 April 2014.
sore sekitar pukul 16.00 aku ke kampus lagi, setelah 15 menit sebelumnya aku baru pulang dari kampus. aku menyempatkan diri untuk memotong celana lapanganku (oke ini konyol, tolong gak usah pake ketawa) buat lomba futsal antar kelas Psikologi yang kebetulan aku satu team sama Silud *yeay!. semua berjalan lancar, aku semangat lari kanan kiri. namun beberapa menit  setelahnya, aku lengser! jatoh! sempet aku mrenges alias senyum semi nahan sakit. waktu mau bangun, gue gagal! saaaakiiitttnya mata kaki ku! astaga, waktu itu yang terlintas cuma "jangan nangis, jangan nangis, tahan, kuat kuat". akhirnya aku di pindah ke pinggir lapangan dan sambil nahan nangis. beberapa menit temen-temen medis nemenin aku, ngasih bantuan dan semangat (jujur, salut banget sama medisnya. mereka keren. semangatnya. salut!!). hingga akhirnya datanglah si Tapel dengan nada perhatiannya yang membuat aku menumpahkan air mata yang sempat tertahan. sodaraku laaahh, cuma sama dia, dia yang udah tau luar dalem, dia yang paham kalo aku lemahnya kaya gimana. meskipun keadaanku memilukan tapi teamku menang hihihii
pulang ke kost aku di anter Gung Is, Igan sama Anggie padahal malemnya mereka mau pulang kampung. aahh rasanya lengkap sekali penderitaanmu malam itu. aku telpon Bang Boy, minta dia dateng ke kost. lamaa. sampe aku ketiduran. malemnya Audrey dateng ke kost, cerita sampe malem dan meredakan sakitku sejenak. 

Kamis, 17 April 2014 - Rabu, 23 April 2014.
paginya Audrey dateng ke kost bak malaikat penyambung nyawa. dia bawa tongkat sama tensocrepe (yang ga tau bisa googling) dia langsung balut kakiku pake pembalut ajaib itu. 
jam 10.30 aku dijemput, naik mobil. sebelumnya udah berencana naik motor dan membayangkan bakal asik banget. namun harapan tinggal harapan semata. di jalan pun sama saja sakitnya. sakit kaki dan sakit hati. sakit hati waktu mereka turun makan aku nggak bisa ikut turun. 
rencana waktu mau pulang udah aku susun banyak banget :
1. ke greja pake sepatu cantik = GAGAL
2. potong rambut = GAGAL, kramas aja butuh perjuangan
3. jait celana dan rok kain = GAGAL
4. tatto temporar = GAGAL
5. main-main = GAGAL
kalo kamu tau, setiap kali mau ke kamar mandi entah mau pipis, boker atau mandi pasti nangis dulu. sakitnyaaaaa. tiap jalan selain pake tongkat hasil pinjeman dari Audrey aku juga dibantu sama Mamah (luar biasa sekali mamah saya). 
beberapa kali di urut sama Mbah Jo (atau Joe ya?) umurnya sekitar 65-70 tahun. sabar sekali, kalo aku udah nangis langsung diajak ketawa sambil dipijit-pijit nikmat. oiya, dulu dia yang mijetin aku waktu aku masih kecil juga jadi dia udah kenal aku sejak aku masih kecil hihihi.
namun ada satu hal yang bikin aku stress LAPORAN WAIS. sudah aku tidak ingin membahas itu di sini karena aku sudah membahasnya sama Vian. 
laporanku dibenerin sama Bang Boy, dia bela-belain nggak belajar buat UTS demi laporanku, dia bela-belain ke warnet malem-malem demi ngirim e-mail ke aku, mondar-mandir Paingan-Mrican buat ambil laporanku. aku udah nggak tau mau ngomong trimakasih apa sama dia. dia baik sekali. terimakasih karena selalu ada :)

sekian cerita minggu menyebalkan ini, apapun yang terjadi dalam minggu ini aku yakin Tuhan sudah menyiapkan hikmah yang luar biasa, pelajaran yang luar biasa. terimakasih Tuhan, terimakasih teman-teman, terimakasih pacar dan sahabat yang paling luar biasa terimakasih keluargaku.


with love,


Ken Sulanjari