Sabtu, 31 Mei 2014

Randomisasi Hati

selamat malam kawan-kawan :)

kemarin, saya menyempatkan diri pergi dengan sahabat kecil saya.
maklum sudah lama tidak bertemu.
kami pergi ke sempor, tentu saja bukan untuk melihat "hal yang aneh-aneh" ya.
kami ke sempor untuk mengambil anjing sahabat saya di rumah mantannya.
lama kami menunggu sang empunya rumah.
karena saya sedikit takut anjing-anjing yang turut menjaga rumah mantannya sahabat saya itu, akhirnya saya menunggu di atas motor. 
sedikit-dikit kepo hape sahabat saya itu.
ketika saya buka album foto-fotonya, saya melihat gambar yang dikirim dari mantannya.
begini bunyinya :

"kita punya dua buah mata dan satu lidah yang artinya kita harus lebih banyak melihat daripada berbicara.
 kita punya dua buah telinga dan satu mulut yang artinya kita harus lebih banyak mendengar daripada  berbicara.
 kita punya dua buah tangan dan kaki serta satu perut yang artinya kita harus lebih banyak bekerja daripada  makan.
 kita punya tiga sisi otak; otak kanan, kiri dan tengah serta punya satu hati yang artinya kita harus lebih  banyak berpikir daripada merasa"


saya pikir kita sudah tidak asing dengan kata-kata di atas. 
tapi kali ini saya benar-benar memikirkan kata-kata tersebut.
menyedihkan sekali kalo saya masih belum bisa menerapkannya dalam hidup saya.
bahwa melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan belum cukup untuk membuat oranglain bahagia, apalagi diri sendiri.
pada dasarnya saya ingin membuat orang lain bahagia, namun terkadang cara yang saya lakukan masih salah yang justru membuat orang lain susah bahkan sedih.
yaaahh, saya harus terus mencoba.


ke-random-an ini saya persembahkan untuk kawan-kawan saya, keluarga saya dan pacar saya :)

Minggu, 18 Mei 2014

tugas gilak!

Kerasnya dunia perkuliahan baru busa dirasakan ketika tugas mulai menumpuk dan sedikit membuat kegilaan tersendiri.

Yang membuat gila bukan hanya tugasnya, dosennya juga, teman-temannya pun begitu.

Makanya pinter-pinter atur waktu dan teman hihihi pinter doping juga sih misalnya dengan cari pacar yang bisa diajak main bareng gila bareng, misalnya.

Kamis, 15 Mei 2014

ketika kunjungan ..


Sabtu, 10 Mei 2012. 

Hal baru yang saya dapatkan dari masa saya kuliah di Psikologi. Kami berangkat ke Rumah Sakit Jiwa Ghrasia. Saya tidak akan banyak membicarakan materi secara formal yang saya dapatkan selama saya belajar disana. Namun saya mendapatkan hal yang lebih dari sekedar materi formal tersebut. Saya lebih belajar mengenai kehidupan. Hidup men!

Membicarakan soal kehidupan sangatlah rumit. Ketika saya melihat para pasien rumah sakit tersebut saya merasa bahwa saya adalah salah satu orang yang beruntung karena bisa belajar psikologi bersama dengan teman-teman yang lain. Saya merasa beruntung bahwa saya dapat mengunjungi mereka, bukan menjadi orang yang dikunjungi. Terlebih karena saya bisa melakukan "coping stress".

Ketika saya datang untuk melakukan wawancara kepada salah satu pasien namanya Mbak Susi, saya melihat bahwa di matanya bahwa mereka adalah orang yang tulus, orang yang jujur. Mereka akan mengatakan sejauh yang mereka pahami, mereka akan mengatakan apa saja yang ada dalam pikiran mereka. Ketika saya mulai mengajukan beberapa pertanyaa, pasien yang saya wawancarai, menyampaikan bahwa orang paling dia sayangi adalah ibunya. Bahkan orang “sakit” pun memiliki rasa sayang yang besar kepada keluarganya yang sudah mengirimkan mereka ke rumah sakit itu dan lebih menyerahkannya kepada para suster. Hal tersebut membuat saya sedikit berpikir, mengapa masih saja ada kejadian seorang anggota keluarga tega membunuh saudara bahkan anaknya yang “berbeda” dengan kita. 

Jadi siapa yang benar-benar sakit mental? Mereka yang membunuh saudaranya atau mereka yang ada di rumah sakit jiwa? Mbak Susi juga mengatakan bahwa, dia sangat ingin pulang ke rumah. Dia sangat merindukan ibunya. Aku tidak tau apakah rasa rindu Mbak Susi kepada ibunya adalah pernyataan yang sesuai dengan keadaannya atau tidak yang pasti hal ini bisa menjadi tolok ukur bagi kita yang dicap normal untuk melihat kembali diri kita sendiri. Bahwa mereka sebenarnya tidak ingin berada disana, mereka hanya kehilangan rasa kasih sayang dari orang terdekatnya. Mereka kehilangan kepedulian dari orang-orang yang mereka sayang.


Tentu saja bagi kita yang dicap normal ini sudah seharusnya berpikir bahkan bertindak saling peduli bagi sahabat-sabahat kita dan keluarga kita sendiri. Sebelum mereka yang kita sayangi menjadi salah satu keluarga rumah sakit jiwa. Kadang kala apa yang kita lakukan dan katakan tanpa sadar dapat menyakiti hati teman, sahabat dan keluarga kita. Melihat hal ini mari mulai saat ini kita dapat menyadari serta peka dan peduli dengan apa yang sudah kita lakukan dan kita katakan. Jadi, sebelum teman atau keluargamu masuk Rumah Sakit Jiwa juga ada baiknya untuk terus menanamkan kasih sayang dan rasa saling peduli.

Selamat Malam :)

Minggu, 11 Mei 2014

semoga ya :)

Selamat pagi semuanya
Hari apa ini? Senin.
Semoga harimu menyenangkan.
Semoga perjalanan hidupmu menyenangkan.
Semoga pilihanmu adalah pilihan yang menyenangkan.