Kamis, 15 Mei 2014

ketika kunjungan ..


Sabtu, 10 Mei 2012. 

Hal baru yang saya dapatkan dari masa saya kuliah di Psikologi. Kami berangkat ke Rumah Sakit Jiwa Ghrasia. Saya tidak akan banyak membicarakan materi secara formal yang saya dapatkan selama saya belajar disana. Namun saya mendapatkan hal yang lebih dari sekedar materi formal tersebut. Saya lebih belajar mengenai kehidupan. Hidup men!

Membicarakan soal kehidupan sangatlah rumit. Ketika saya melihat para pasien rumah sakit tersebut saya merasa bahwa saya adalah salah satu orang yang beruntung karena bisa belajar psikologi bersama dengan teman-teman yang lain. Saya merasa beruntung bahwa saya dapat mengunjungi mereka, bukan menjadi orang yang dikunjungi. Terlebih karena saya bisa melakukan "coping stress".

Ketika saya datang untuk melakukan wawancara kepada salah satu pasien namanya Mbak Susi, saya melihat bahwa di matanya bahwa mereka adalah orang yang tulus, orang yang jujur. Mereka akan mengatakan sejauh yang mereka pahami, mereka akan mengatakan apa saja yang ada dalam pikiran mereka. Ketika saya mulai mengajukan beberapa pertanyaa, pasien yang saya wawancarai, menyampaikan bahwa orang paling dia sayangi adalah ibunya. Bahkan orang “sakit” pun memiliki rasa sayang yang besar kepada keluarganya yang sudah mengirimkan mereka ke rumah sakit itu dan lebih menyerahkannya kepada para suster. Hal tersebut membuat saya sedikit berpikir, mengapa masih saja ada kejadian seorang anggota keluarga tega membunuh saudara bahkan anaknya yang “berbeda” dengan kita. 

Jadi siapa yang benar-benar sakit mental? Mereka yang membunuh saudaranya atau mereka yang ada di rumah sakit jiwa? Mbak Susi juga mengatakan bahwa, dia sangat ingin pulang ke rumah. Dia sangat merindukan ibunya. Aku tidak tau apakah rasa rindu Mbak Susi kepada ibunya adalah pernyataan yang sesuai dengan keadaannya atau tidak yang pasti hal ini bisa menjadi tolok ukur bagi kita yang dicap normal untuk melihat kembali diri kita sendiri. Bahwa mereka sebenarnya tidak ingin berada disana, mereka hanya kehilangan rasa kasih sayang dari orang terdekatnya. Mereka kehilangan kepedulian dari orang-orang yang mereka sayang.


Tentu saja bagi kita yang dicap normal ini sudah seharusnya berpikir bahkan bertindak saling peduli bagi sahabat-sabahat kita dan keluarga kita sendiri. Sebelum mereka yang kita sayangi menjadi salah satu keluarga rumah sakit jiwa. Kadang kala apa yang kita lakukan dan katakan tanpa sadar dapat menyakiti hati teman, sahabat dan keluarga kita. Melihat hal ini mari mulai saat ini kita dapat menyadari serta peka dan peduli dengan apa yang sudah kita lakukan dan kita katakan. Jadi, sebelum teman atau keluargamu masuk Rumah Sakit Jiwa juga ada baiknya untuk terus menanamkan kasih sayang dan rasa saling peduli.

Selamat Malam :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar