Sabtu,
10 Mei 2012.
Hal baru yang saya dapatkan dari masa saya kuliah di Psikologi.
Kami berangkat ke Rumah Sakit Jiwa Ghrasia. Saya tidak akan banyak membicarakan
materi secara formal yang saya dapatkan selama saya belajar disana. Namun saya
mendapatkan hal yang lebih dari sekedar materi formal tersebut. Saya lebih
belajar mengenai kehidupan. Hidup men!
Membicarakan
soal kehidupan sangatlah rumit. Ketika saya melihat para pasien rumah sakit
tersebut saya merasa bahwa saya adalah salah satu orang yang
beruntung karena bisa belajar psikologi bersama dengan teman-teman yang lain.
Saya merasa beruntung bahwa saya dapat mengunjungi mereka, bukan menjadi orang
yang dikunjungi. Terlebih karena saya bisa melakukan "coping stress".
Ketika
saya datang untuk melakukan wawancara kepada salah satu pasien namanya Mbak
Susi, saya melihat bahwa di matanya bahwa mereka adalah orang yang tulus, orang
yang jujur. Mereka akan mengatakan sejauh yang mereka pahami, mereka akan
mengatakan apa saja yang ada dalam pikiran mereka. Ketika saya mulai mengajukan
beberapa pertanyaa, pasien yang saya wawancarai, menyampaikan bahwa orang
paling dia sayangi adalah ibunya. Bahkan orang “sakit” pun memiliki rasa sayang
yang besar kepada keluarganya yang sudah mengirimkan mereka ke rumah sakit itu
dan lebih menyerahkannya kepada para suster. Hal tersebut membuat saya sedikit
berpikir, mengapa masih saja ada kejadian seorang anggota keluarga tega
membunuh saudara bahkan anaknya yang “berbeda” dengan kita.
Jadi siapa yang benar-benar sakit mental? Mereka yang membunuh saudaranya atau mereka yang ada
di rumah sakit jiwa? Mbak Susi juga mengatakan bahwa, dia sangat ingin pulang
ke rumah. Dia sangat merindukan ibunya. Aku tidak tau apakah rasa rindu Mbak Susi kepada ibunya
adalah pernyataan yang sesuai dengan keadaannya atau tidak yang pasti hal ini
bisa menjadi tolok ukur bagi kita yang dicap normal untuk melihat kembali diri
kita sendiri. Bahwa mereka sebenarnya tidak ingin berada disana, mereka hanya
kehilangan rasa kasih sayang dari orang terdekatnya. Mereka kehilangan
kepedulian dari orang-orang yang mereka sayang.
Tentu
saja bagi kita yang dicap normal ini sudah seharusnya berpikir bahkan bertindak
saling peduli bagi sahabat-sabahat kita dan keluarga kita sendiri. Sebelum
mereka yang kita sayangi menjadi salah satu keluarga rumah sakit jiwa. Kadang
kala apa yang kita lakukan dan katakan tanpa sadar dapat menyakiti hati teman,
sahabat dan keluarga kita. Melihat hal ini mari mulai saat ini kita dapat
menyadari serta peka dan peduli dengan apa yang sudah kita lakukan dan kita
katakan. Jadi, sebelum teman atau keluargamu masuk Rumah Sakit Jiwa juga ada baiknya untuk terus menanamkan kasih sayang dan rasa saling peduli.
Selamat Malam :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar