Rabu, 06 Agustus 2014

Ya, aku pun merasakannya

Kamis, 17 Juli 2014

Diposkan oleh Bonny Fx di 08.25

tanpa mengurangi rasa hormat, aku ingin mengucapkan “terimakasih” kepada hati yang pernah berpaut didalam hidupku, meskipun menjadi cerita usang.

Aku telah membiarkan rasa ini mengalir sebagaimana seharusnya. Tidak ingin mengingat ujung pangkal percikan-percikan bahagia yang dulu pernah ada. Ya tentu saja. Namun ada kalanya terlintas juga sebagai ingatan saja.

Bicara tentang naluri, naluri-naluri ini bergerak diluar kendaliku, lelu melahirkan cemas yang tak mampu ditebak-tebak, itu terjadi padaku! Entalah, ini sindrom apa? Kadang kemampuan berfikir serasa lumpuh, “aku lupa mana yang nyata dan mana yang hanya semu”.

 Setidaknya begitulah hematku tentang hidupku sendiri, yang aku jalani saat ini, tetap berjalan dan penuh dengan warna-warni keindahan. Aku sengaja mengatakan hitam-putih perjalanan hidup ini menjadi suatu yang indah meskipun sesungguhnya itu aku paksa. Sejujurnya aku sudah tidak memikirkan takaran indah atau tidak itu sampai dimana, pendapat kita pasti berbeda.

Ahhh sudahlah, bukankah yang dilebih-lebihkan itu tidak baik?. Kita juga tetap begini-begini saja bukan? Kamu tahu kenapa? Karena apa yang terjadi, apa yang kita rasa, hanya kesemuan.

Kadang terkesan seperti sinetron. Bersembunyi dari yang mencari, mengejar pada yang terus berlari, menguntai kusut tak berbentuk. Berharap adanya pertemun walau berbeda arah, tapi kabut prasangka telah menghalangi kita. Akhirnya berpura-pura bahwa rasa tidak pernah ada.

Aku teringat si buas satu ini, waktu. Dia telah memangsa semuanya, kisah-kasih kini menjadi nostalgia. Ada perasaan sayang untuk melupakan kenangan-ke nangan tadi, tapi sudahlah. Karena itu bukan haluanku. Aku tak ingin terikat apalagi diikat.

Jika kita pernah mendengarkan kata mengabaikan, aku rasa ini yang telah kita jalani, entah secara sadar maupun tidak. Kelak aku tidak berharap adanya penyesalan yang menuntut kita pada kepasrahan, dan lebih-lebih pada fase penyerahan. Aku harap kita bisa menerjemahkan suatu bahasa yang sama dimana segala sesuatu yang terjadi itu punya alasan.

NB: gak usah sokkk sibukkkk yahhh :)

Apakah?

Yak, akhirnya tiba pada hari yang biasa, dimana kita tak saling bicara, dimana kita tak saling bertemu.

Sayang, maaf ya.
Aku sedang tidak menghindarimu kok.
Aku cuma ah sudahlah kau tak akan pernah paham.
Atau aku yang sulit dipahami?
Maaf sayang sekali lagi.
Entah harus dimulai darimana, pengakuan ini ku katakan padamu.
Apakah dari kalimat "aku masih menyukainya, sayang"?
Apakah kau paham?
Paham itu tidak hanya membaca kalimat barusan loh, paham itu ah sudahlah.
Aku tahu ketika kamu membacanya pasti kamu akan menjawab "Iya, aku paham" tapi apakah betul paham?

Sekali lagi maafkan aku.
Pernah ku katakan, "ya kalau sayang ke orang lain ya nggak papa lah".
Ternyata setelah aku pikirkan lagi, itu adalah kata-kata untuk diriku sendiri.
Aku mengerti bahwa kau akan kecewa. 
Tapi apakah aku akan benar-benar mengerti?

Ketika bertemu lagi nanti, entah kapan, entah dimana, entah kita sudah berstatus apa.
Aku berjanji akan menceritakannya padamu.
Ternyata sungguh, menahan perasaan tak akan pernah bisa bertahan lama.
Pada akhirnya aku akan mengakui hal ini, apakah aku juga harus mengakui perasaanku padanya?