Kemarin,
seorang bocah yang tak ku kenal tiba-tiba saja datang kepadaku sambil
sesenggukan dan sedikit ingus menghiasi hidungnya yang merah serta mata menghitam.
Asumsiku saat itu karena bocah itu sudah terlalu lama menangis.
Dia mengayun-ayunkan
tangannya nan mungil bermaksud membuatku menunduk untuk mendengarkan
bisikannya. Kemudian ku turuti permintaannya, ku tundukkan leherku dan menyodorkan
daun telingaku ke arahnya. Dari bibirnya yang mungil, bocah tersebut membisikkan
kata-kata yang tak bisa ku pahami artinya. Kedengaranya seperti mantra dari
negeri seberang.
1
menit
2
menit
Semakin
lama aku semakin terbuai oleh mantra yang dia ucapkan, semakin lama semakin
membuatku tidak sadar bahwa aku sedang dibawanya menuju sebuah dimensi yang
lain selain dimensi dimana semestinya aku berada. Bahkan aku bingung sendiri,
otak sepertinya semakin sulit untuk digunakan saat itu. Aku dimana? Aku sedang
berada dimana? Ini bukanlah tempat dimana semestinya aku ada. Begitu bisikku
dalam hati. Jantungku seakan semakin keras bekerja, bahkan bisa saja bocah tadi
mendengar bagaimana irama jantungku saat itu.
Di dimensi
itu banyak sekali warna-warna hingga aku tak tau disebut warna apakah tersebut
karena aku tak pernah melihat sebelumnya. Ternyata bocah yang ku kira hilang
tadi tiba-tiba menggandeng tanganku. Sedikit kaget karena aku tidak tau
darimana dia datang. Dibawanya aku berkeliling tempat tersebut. Kakinya lincah
diayunkan, jemarinya kuat menggenggam tanganku yang sedikit kebesaran bagi
tangannya.
Semakin
lama tempat ini semakin menyenangkan, bocah tadi tidak berhenti cengengesan. Suaranya
memenuhi sudut-sudut ruangan tempat ini. Rasanya tak ingin pergi dari sini,
rasanya tak ingin keluar. Terlena oleh rasa dan berbagai macam gelora yang
mengisi dalam dada yang sempit ini. Meniti setiap jengkal syaraf dalam tubuh,
dari kaki hingga kepala. Menyenangkan dan enggan untuk keluar. Dunia ini
ternyata jauh lebih menyenangkan dari pada di tempat asalku.
Akhirnya
aku dan bocah tadi duduk karena lelah berjalan-jalan. Merenggangkan otot tangan
dan kaki yang kencang karena jarang diajak untuk bergerak terlalu lama. Satu hal
yang aku lupa tanyakan sejak kedatangan bocah itu, “Siapa namamu?”. Seketika bocah
itu menatapku dengan sorot mata yang lembut kemudian tersenyum “Rindu”. Ku lanjutkan
pertanyaanku yang sepertinya agak sulit dia jawab, “Ini dimana?”. Kemudian senyumnya
semakin lebar, “Ini ruanganku dimana aku biasa tinggal”. Aku mengangguk, paham.
“Oh, jadi ini Ruang Rindu ya?”.
Ruang
rindu.