Rabu, 28 Januari 2015

hai, aku sedang jalan-jalan

Kemarin, seorang bocah yang tak ku kenal tiba-tiba saja datang kepadaku sambil sesenggukan dan sedikit ingus menghiasi hidungnya yang merah serta mata menghitam. Asumsiku saat itu karena bocah itu sudah terlalu lama menangis.

Dia mengayun-ayunkan tangannya nan mungil bermaksud membuatku menunduk untuk mendengarkan bisikannya. Kemudian ku turuti permintaannya, ku tundukkan leherku dan menyodorkan daun telingaku ke arahnya. Dari bibirnya yang mungil, bocah tersebut membisikkan kata-kata yang tak bisa ku pahami artinya. Kedengaranya seperti mantra dari negeri seberang.

1 menit

2 menit

Semakin lama aku semakin terbuai oleh mantra yang dia ucapkan, semakin lama semakin membuatku tidak sadar bahwa aku sedang dibawanya menuju sebuah dimensi yang lain selain dimensi dimana semestinya aku berada. Bahkan aku bingung sendiri, otak sepertinya semakin sulit untuk digunakan saat itu. Aku dimana? Aku sedang berada dimana? Ini bukanlah tempat dimana semestinya aku ada. Begitu bisikku dalam hati. Jantungku seakan semakin keras bekerja, bahkan bisa saja bocah tadi mendengar bagaimana irama jantungku saat itu.

Di dimensi itu banyak sekali warna-warna hingga aku tak tau disebut warna apakah tersebut karena aku tak pernah melihat sebelumnya. Ternyata bocah yang ku kira hilang tadi tiba-tiba menggandeng tanganku. Sedikit kaget karena aku tidak tau darimana dia datang. Dibawanya aku berkeliling tempat tersebut. Kakinya lincah diayunkan, jemarinya kuat menggenggam tanganku yang sedikit kebesaran bagi tangannya.

Semakin lama tempat ini semakin menyenangkan, bocah tadi tidak berhenti cengengesan. Suaranya memenuhi sudut-sudut ruangan tempat ini. Rasanya tak ingin pergi dari sini, rasanya tak ingin keluar. Terlena oleh rasa dan berbagai macam gelora yang mengisi dalam dada yang sempit ini. Meniti setiap jengkal syaraf dalam tubuh, dari kaki hingga kepala. Menyenangkan dan enggan untuk keluar. Dunia ini ternyata jauh lebih menyenangkan dari pada di tempat asalku.

Akhirnya aku dan bocah tadi duduk karena lelah berjalan-jalan. Merenggangkan otot tangan dan kaki yang kencang karena jarang diajak untuk bergerak terlalu lama. Satu hal yang aku lupa tanyakan sejak kedatangan bocah itu, “Siapa namamu?”. Seketika bocah itu menatapku dengan sorot mata yang lembut kemudian tersenyum “Rindu”. Ku lanjutkan pertanyaanku yang sepertinya agak sulit dia jawab, “Ini dimana?”. Kemudian senyumnya semakin lebar, “Ini ruanganku dimana aku biasa tinggal”. Aku mengangguk, paham. “Oh, jadi ini Ruang Rindu ya?”.


Ruang rindu.

Senin, 19 Januari 2015

MALAM PILU KALA ITU


Satu malam sunyi, seusai tangis ini. Entah hari apa saat ini, aku pun tak paham apakah saat ini aku masih hidup atau sudah tak bernyawa bersama dengan kekeruhan hidup. Sejenak aku terduduk kebingungan, ku amati ruangan tersebut. Sekali lagi aku kembali menghirup wangi itu. Ku hirup lamat-lamat, seperti anjing mengendus-endus tulang terakhirnya. Pucuk-pucuk indra pembau terus menyampaikan stimulus sampai ke benda kecil di dalam kepala ini. Apakah ini sebenarnya? Menyebalkan sekali, aku harus turun ke lantai yang dingin dan lembap ini. Menyedihkan.

Ku cari pusat wangi itu, di setiap sudut hati, disetiap celah-celah rasa. Sekali lagi aku beranikan diri untuk membuka setiap memori tentangnya. Semakin dicari, semakin lara. Semakin diinginkan, semakin pedih. Menyenangkan namun menyakitkan. Ahh.. ternyata ini berasal darinya. Kamu. Datang lagi.

Bagaimana bisa kamu datang seolah lupa apa yang sudah kamu katakan pada hari yang lalu. Bagaimana bisa kamu datang seolah tidak memiliki alasan untuk menyesal. Bukankah terakhir kemarin aku sudah berkata padamu untuk tidak datang lagi? Tak bisakah kamu bersikap seolah-olah aku hanya debu di atas pundakmu? Ada namun tak berarti. Jadi, mengapa harus datang lagi malam ini?

Kemudian kau menyuruhku untuk tetap ada, namun tetap saja dirimu tak akan pernah menjadi pelipur laraku. Kau menyuruhku untuk tetap denganmu, namun tetap saja hadirmu hanya menjadi angan kecil bagiku. Seolah-olah kebingungan menjadi makananku setiap mulutku terbuka dan memulai percakapan konyol bersamamu dalam ruang sempit ini.

Lagi-lagi hal ini yang aku tanyakan padamu, “Apakah aku ini?”. Hingga berbuih darah mulutku menanyakan hal yang sama setiap kali malam tiba. Namun dengan tangkasnya kamu segera melempar bola itu lagi dan berkata “Cari saja yang lain, sesuai kemampuanmu!”. Ku sambut jawaban itu dengan helaan nafas yang sangat panjang, hingga sisa-sisa udara dalam dadaku habis. Dari nafas tersebut terdengar sangat kentara bagaimana amarah, kekecewaan dan cinta meronta-ronta untuk dilepaskan.

Apakah begitu tidak berharganya sebuah cinta di matamu, sedangkan aku manusia yang tidak berharga ini begitu mengagungkan cinta dan kamu membuangnya ibarat sampahlah yang ada di hadapanmu ini. Seolah tidak menyadari bahwa angin yang sering bertiup, membelai wajahnya dan membuatnya kegirangan adalah aku. Ahh ternyata..

Tentu kamu masih ingat satu hal yang pernah aku katakan bahwa saat kamu bahagia, kupu-kupu di dalam perutku berterbangan sehingga membuatku lebih bahagia hanya dengan melihat kebahagianmu. Bahagia dengan senyummu sehingga memperlihatkan satu gigi mungilmu yang sangat ku suka serta setiap jengkal kata-kata yang kamu ucapkan kepadaku walaupun itu bukan tentang aku. Menyenangkan melihatmu seperti itu namun tak dapat dipungkiri bahwa menyakitkan jika terlalu lama melihatnya. Terlalu membingungkan semua ini.

Jujur harus aku akui bahwa mengenal cinta itu menyenangkan namun menyakitkan dan menyakitkan namun menyenangkan. Mari sedikit bermain dengannya. Cinta hanya sebuah permainan sedangkan ketulusan merupakan bagian yang lebih penting untuk ku bagikan kepadamu.

Setelah percakapan yang melelahkan ini, akhirnya kamu memutuskan untuk pulang. Terbesit rasa pilu yang diam-diam menyeruak di dalam rongga dadaku ini. Keputusan sudah menjadi keputusan meskipun ragu menjadi temannya. Apa yang harus saya lakukan? Berulang kali aku bertanya dalam diriku. Apa yang bisa saya lakukan? Apakah ini terlalu memalukan bagimu? Sempat tadi ku lihat wajahmu yang sedikit memerah karena aku berkata jujur mengenai hal mengerikan yang disebut cinta tersebut. Merahnya pipimu tak dapat ku artikan apakah karena malu, ataukah marah atau justru saat itu kau sedang mengingat kembali cerita indah mengenai gadis yang sangat kau cintai itu. Tidak ada yang tau.

Malam semakin malam, semakin larut dalam kebimbangan. Ku putuskan untuk membuka bungkus rokok yang sudah ku sumpahi untuk tidak akan pernah ku apitkan dikedua belah bibirku. Namun, janji hanya sebuah janji sampai kau berada pada ujung jurang keputus asaan. Ku hirup dalam-dalam sampai bara api di ujung batang rokok tersebut semakin memerah dan membakar sedikit tubuhnya yang ramping. Rasanya sakit, kembali aku bingung apakah ini sesak karena ampas rokok yang ku hirup barusan ataukah ampas kenyataan yang baru saja ku telan sejak kehadiranmu. Terbatuk-batuk aku dibuatnya. Semakin perih, semakin sesak. Mengapa kesendirian bisa begitu menyakitkan seperti ini? Mengapa begitu memilukan? Jika ini cinta, sungguh aku tak ingin merasakannya. Jika ini cinta, sungguh aku akan berubah pikiran untuk tidak mengenalnya sebelum aku mengenalmu.


Pagi datang. Ku temui diriku sudah tidur terlentang berada di sebuah ruangan yang tidak aku ketahui. Ini bukan di kamar tidurku. Tidak pernah sebelumnya aku kemari. Setelah ku amati, aku tertawa terbahak-bahak seolah menyadari hal yang besar terjadi dalam diriku. Aku dibawa ke dalam ruangan yang sama sekali tidak akan pernah kamu temui sayang, ruangan yang disebut kehampaan. 

Selamat datang hai kamu yang mendewakan cinta. Hidup karena cinta dan matipun karena cinta. Enyahlah menjadi butiran-butiran yang tak berarti.




20/01/2015