Satu malam sunyi, seusai
tangis ini. Entah hari apa saat ini, aku pun tak paham apakah saat ini aku
masih hidup atau sudah tak bernyawa bersama dengan kekeruhan hidup. Sejenak aku
terduduk kebingungan, ku amati ruangan tersebut. Sekali lagi aku kembali menghirup
wangi itu. Ku hirup lamat-lamat, seperti anjing mengendus-endus tulang terakhirnya.
Pucuk-pucuk indra pembau terus menyampaikan stimulus sampai ke benda kecil di
dalam kepala ini. Apakah ini sebenarnya? Menyebalkan sekali, aku harus turun ke
lantai yang dingin dan lembap ini. Menyedihkan.
Ku cari pusat wangi itu, di
setiap sudut hati, disetiap celah-celah rasa. Sekali lagi aku beranikan diri
untuk membuka setiap memori tentangnya. Semakin dicari, semakin lara. Semakin
diinginkan, semakin pedih. Menyenangkan namun menyakitkan. Ahh.. ternyata ini
berasal darinya. Kamu. Datang lagi.
Bagaimana bisa kamu
datang seolah lupa apa yang sudah kamu katakan pada hari yang lalu. Bagaimana bisa kamu datang seolah tidak
memiliki alasan untuk menyesal. Bukankah terakhir kemarin aku sudah berkata
padamu untuk tidak datang lagi? Tak bisakah kamu bersikap seolah-olah aku hanya
debu di atas pundakmu? Ada namun tak berarti. Jadi, mengapa harus datang lagi
malam ini?
Kemudian kau menyuruhku
untuk tetap ada, namun tetap saja dirimu tak akan pernah menjadi pelipur laraku.
Kau menyuruhku untuk tetap denganmu, namun tetap saja hadirmu hanya menjadi
angan kecil bagiku. Seolah-olah kebingungan menjadi makananku setiap mulutku
terbuka dan memulai percakapan konyol bersamamu dalam ruang sempit ini.
Lagi-lagi hal ini yang
aku tanyakan padamu, “Apakah aku ini?”. Hingga berbuih darah mulutku menanyakan
hal yang sama setiap kali malam tiba. Namun dengan tangkasnya kamu segera
melempar bola itu lagi dan berkata “Cari saja yang lain, sesuai kemampuanmu!”.
Ku sambut jawaban itu dengan helaan nafas yang sangat panjang, hingga sisa-sisa
udara dalam dadaku habis. Dari nafas tersebut terdengar sangat kentara bagaimana amarah,
kekecewaan dan cinta meronta-ronta untuk dilepaskan.
Apakah begitu tidak
berharganya sebuah cinta di matamu, sedangkan aku manusia yang tidak berharga
ini begitu mengagungkan cinta dan kamu membuangnya ibarat sampahlah yang ada di
hadapanmu ini. Seolah tidak menyadari bahwa angin yang sering bertiup, membelai
wajahnya dan membuatnya kegirangan adalah aku. Ahh ternyata..
Tentu kamu masih ingat
satu hal yang pernah aku katakan bahwa saat kamu bahagia, kupu-kupu di dalam
perutku berterbangan sehingga membuatku lebih bahagia hanya dengan melihat kebahagianmu.
Bahagia dengan senyummu sehingga memperlihatkan satu gigi mungilmu yang sangat ku
suka serta setiap jengkal kata-kata yang kamu ucapkan kepadaku walaupun itu bukan tentang aku. Menyenangkan melihatmu
seperti itu namun tak dapat dipungkiri bahwa menyakitkan jika terlalu lama melihatnya. Terlalu membingungkan semua ini.
Jujur harus aku akui bahwa mengenal cinta itu menyenangkan namun menyakitkan dan menyakitkan namun menyenangkan. Mari
sedikit bermain dengannya. Cinta hanya sebuah permainan sedangkan ketulusan
merupakan bagian yang lebih penting untuk ku bagikan kepadamu.
Setelah percakapan yang
melelahkan ini, akhirnya kamu memutuskan untuk pulang. Terbesit rasa pilu yang
diam-diam menyeruak di dalam rongga dadaku ini. Keputusan sudah menjadi
keputusan meskipun ragu menjadi temannya. Apa yang harus saya lakukan? Berulang
kali aku bertanya dalam diriku. Apa yang bisa saya lakukan? Apakah ini terlalu
memalukan bagimu? Sempat tadi ku lihat wajahmu yang sedikit memerah karena aku
berkata jujur mengenai hal mengerikan yang disebut cinta tersebut. Merahnya
pipimu tak dapat ku artikan apakah karena malu, ataukah marah atau justru saat
itu kau sedang mengingat kembali cerita indah mengenai gadis yang sangat kau
cintai itu. Tidak ada yang tau.
Malam semakin malam,
semakin larut dalam kebimbangan. Ku putuskan untuk membuka bungkus rokok yang
sudah ku sumpahi untuk tidak akan pernah ku apitkan dikedua belah bibirku.
Namun, janji hanya sebuah janji sampai kau berada pada ujung jurang keputus
asaan. Ku hirup dalam-dalam sampai bara api di ujung batang rokok tersebut
semakin memerah dan membakar sedikit tubuhnya yang ramping. Rasanya sakit,
kembali aku bingung apakah ini sesak karena ampas rokok yang ku hirup barusan
ataukah ampas kenyataan yang baru saja ku telan sejak kehadiranmu.
Terbatuk-batuk aku dibuatnya. Semakin perih, semakin sesak. Mengapa kesendirian bisa begitu menyakitkan seperti ini? Mengapa begitu memilukan? Jika ini
cinta, sungguh aku tak ingin merasakannya. Jika ini cinta, sungguh aku akan
berubah pikiran untuk tidak mengenalnya sebelum aku mengenalmu.
Pagi datang. Ku temui
diriku sudah tidur terlentang berada di sebuah ruangan yang tidak aku ketahui. Ini bukan di
kamar tidurku. Tidak pernah sebelumnya aku kemari. Setelah ku amati, aku
tertawa terbahak-bahak seolah menyadari hal yang besar terjadi dalam diriku. Aku dibawa ke dalam
ruangan yang sama sekali tidak akan pernah kamu temui sayang, ruangan yang disebut
kehampaan.
Selamat datang hai kamu yang mendewakan cinta. Hidup karena cinta
dan matipun karena cinta. Enyahlah menjadi butiran-butiran yang tak berarti.
20/01/2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar