Sore itu kira-kira pukul 17.00, matahari senja tidak terlihat.
Oh, ternyata gerimis kembali hadir di antara kita. Menciptakan ruang nostalgia yang indah. Petak-petak
sawah melebar di depan wajah kita. Kamu di sampingku, sungguh-sungguh di
sebelah kananku. Begitu dekat, begitu rapat. Bahkan sampai aroma keringatmu
dapat ku cium. Begitu dingin namun juga begitu hangat. Aku, kamu dan hujan.
“Hujan
tidak hanya membelah tiap petak bumi namun juga membelah tiap petak hati di
antara kita. Kamu memang ada, namun tak akan pernah ku biarkan satu petak kecil
dalam hatiku dapat kau tanami. Kamu memang ada, namun tak akan pernah ku
biarkan kamu mendapatkan satu meterpun untuk mendapatkan hasil panen. Aku tak
akan pernah membiarkan gadis petani sepertimu menjadi penggarap atas hatiku.
Jauh,
jauh disana. Dewi Bumi sudah memberiku satu benih yang benar-benar ku jaga
bahkan ketika dia sudah melupakanku. Jadi, bagaimana bisa Dewi Bumi
dibandingkan dengan gadis petani sepertimu?
Dewi
itu..
Dalam
wujud wanita jelita tak beribarat. Padahal sungguh sudah ku serahkan setiap petak
hatiku untuk direbahkan dalam pangkuannya.
Oh
iya..
Lalu
bagaimana denganmu? Apa yang kau miliki wahai gadis petani yang tak tau malu
dan menginginkan diriku?”
Begitu
katanya, begitu tanyanya.