Jumat, 10 April 2015

aku hanya

Sore itu kira-kira pukul 17.00, matahari senja tidak terlihat.

Oh, ternyata gerimis kembali hadir di antara kita. Menciptakan ruang nostalgia yang indah. Petak-petak sawah melebar di depan wajah kita. Kamu di sampingku, sungguh-sungguh di sebelah kananku. Begitu dekat, begitu rapat. Bahkan sampai aroma keringatmu dapat ku cium. Begitu dingin namun juga begitu hangat. Aku, kamu dan hujan.

“Hujan tidak hanya membelah tiap petak bumi namun juga membelah tiap petak hati di antara kita. Kamu memang ada, namun tak akan pernah ku biarkan satu petak kecil dalam hatiku dapat kau tanami. Kamu memang ada, namun tak akan pernah ku biarkan kamu mendapatkan satu meterpun untuk mendapatkan hasil panen. Aku tak akan pernah membiarkan gadis petani sepertimu menjadi penggarap atas hatiku.

Jauh, jauh disana. Dewi Bumi sudah memberiku satu benih yang benar-benar ku jaga bahkan ketika dia sudah melupakanku. Jadi, bagaimana bisa Dewi Bumi dibandingkan dengan gadis petani sepertimu?

Dewi itu..

Dalam wujud wanita jelita tak beribarat. Padahal sungguh sudah ku serahkan setiap petak hatiku untuk direbahkan dalam pangkuannya.

Oh iya..
Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau miliki wahai gadis petani yang tak tau malu dan menginginkan diriku?”


Begitu katanya, begitu tanyanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar