Sabtu, 21 Juni 2014

memaafkan atau sudah tidak peduli?

Yang namanya masalah memang selalu menjadi bagian yang terpenting bagi manusia. Agaknya manusia kayak kita ini perlu banget bersyukur pernah mengalami seberat apapun, itu yang membuat kita masih bisa berdiri tegak dengan hati yang kuat. 

Termasuk saya. Salah satu manusia level rendah dalam masyarakat entah di rumah maupun di kampus.

Satu tahun belakangan ini makin banyak masalah yang sudah saya rasakan juga belum dapat saya selesaikan. Saya bisa menyadari hal ini, usia makin bertambah tanggung jawab makin berat.
Saya percaya masalah yang diberi Tuhan ini merupakan sebuah kepercayaan dari Tuhan sendiri bahwa saya sudah dewasa, sudah memiliki tanggung jawab yang besar dan tidak lagi memikirkan keegoisan diri sendiri.
Memang sulit sekali membuktikannya untuk diriku sendiri, bahkan saya sendiri merasa belum mampu menyelesaikannya, yang saya bisa lakukan hanya menunda-nunda masalah tersebut yang ujungnya bertumpuk, menggunung.

Beberapa hari ini juga aku sedang menarik diri dari teman-teman. Bukan apa-apa, aku butuh waktu untuk diriku sendiri atau sebenernya Tuhan juga lagi nunjukkin mana temen mana "temen". Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku sendiri terlebih untuk masalah yang satu ini. Beruntungnya masih ada satu orang yang bersedia mendengarkan keluh kesahku, tidak mengapa. Didengarkan saja sudah melegakan bagiku.
Mungkin aku belum bisa menyelesaikannya, bahkan aku sendiri tidak tau bagaimana untuk menyelesaikannya. Apakah memaafkan sudah cukup? Maksud saya, memaafkan tidak hanya untuk mengampuni kesalahan orang yang bersangkutan tersebut tapi memaafkan adalah untuk lebih menerima setiap masalah-masalah yang ada di dalam masalah tersebut. Membuka diri bahwa masalah tersebut pasti akan memiliki ujungnya masing-masing, entah akan berakhir menyedihkan atau beruntungnya bahagia. Apakah itu saja cukup? Banyak sekali niatan untuk menyelesaikannya mulai dari cara paling busuk yang pernah dipikirkan oleh manusia hingga pikiran paling mulai yang sanggup dipikirkan oleh manusia. Huffft.
Melelahkan sekali, bahkan hanya untuk memikirkannya. Lalu bayangkan apabila aku dapat melakukannya. Aku pastikan itu adalah keberanian level terdewa yang mampu aku keluarkan.


Aku kurang paham ya mengenai definisi memaafkan yang benar itu seperti apa, yang jelas setelah memaafkanpun ada satu bagian dalam hati yang tidak ingin peduli pada orang yang bersangkutan selain itu pasti ada rasa untuk tidak ingin mempercayai dia lagi. Ahh repot juga cinta ya, membingungkan. Ribet kan? Makannya jangan cinta-cintaan mulu, itu coba liat hasil ujianmu gimana? Bye.

2 komentar:

  1. Hmm... Bagiku, aku kesulitan menangkap point of interest dari pesanmu ini Ken. Hal yang sangat membantuku dari tulisan ini adalah ajakan untuk segera mengakses mahasiswa.usd.ac.id guna melihat hasil UAS. Terima kasih Ken. Kamu luar biasa! Joss!

    BalasHapus
  2. maafkan aku mas damar, emang agak random sih hahaha

    BalasHapus