Yang namanya masalah memang
selalu menjadi bagian yang terpenting bagi manusia. Agaknya manusia kayak kita ini perlu banget bersyukur pernah mengalami seberat apapun, itu yang membuat kita masih bisa berdiri tegak dengan hati yang kuat.
Termasuk saya. Salah satu manusia
level rendah dalam masyarakat entah di rumah maupun di kampus.
Satu tahun belakangan ini makin
banyak masalah yang sudah saya rasakan juga belum dapat saya selesaikan. Saya bisa menyadari hal ini, usia makin bertambah tanggung jawab makin berat.
Saya percaya masalah yang diberi
Tuhan ini merupakan sebuah kepercayaan dari Tuhan sendiri bahwa saya sudah
dewasa, sudah memiliki tanggung jawab yang besar dan tidak lagi memikirkan
keegoisan diri sendiri.
Memang sulit sekali
membuktikannya untuk diriku sendiri, bahkan saya sendiri merasa belum mampu
menyelesaikannya, yang saya bisa lakukan hanya menunda-nunda masalah tersebut yang ujungnya
bertumpuk, menggunung.
Beberapa hari ini juga aku sedang
menarik diri dari teman-teman. Bukan apa-apa, aku butuh waktu untuk diriku
sendiri atau sebenernya Tuhan juga lagi nunjukkin mana temen mana "temen". Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku sendiri terlebih untuk
masalah yang satu ini. Beruntungnya masih ada satu orang yang bersedia
mendengarkan keluh kesahku, tidak mengapa. Didengarkan saja sudah melegakan
bagiku.
Mungkin aku belum bisa
menyelesaikannya, bahkan aku sendiri tidak tau bagaimana untuk
menyelesaikannya. Apakah memaafkan sudah cukup? Maksud saya, memaafkan tidak
hanya untuk mengampuni kesalahan orang yang bersangkutan tersebut tapi memaafkan adalah untuk lebih menerima
setiap masalah-masalah yang ada di dalam masalah tersebut. Membuka diri bahwa
masalah tersebut pasti akan memiliki ujungnya masing-masing, entah akan
berakhir menyedihkan atau beruntungnya bahagia. Apakah itu saja cukup? Banyak
sekali niatan untuk menyelesaikannya mulai dari cara paling busuk yang pernah dipikirkan
oleh manusia hingga pikiran paling mulai yang sanggup dipikirkan oleh manusia.
Huffft.
Melelahkan sekali, bahkan hanya
untuk memikirkannya. Lalu bayangkan apabila aku dapat melakukannya. Aku
pastikan itu adalah keberanian level terdewa yang mampu aku keluarkan.
Aku kurang paham ya mengenai
definisi memaafkan yang benar itu seperti apa, yang jelas setelah memaafkanpun
ada satu bagian dalam hati yang tidak ingin peduli pada orang yang bersangkutan
selain itu pasti ada rasa untuk tidak ingin mempercayai dia lagi. Ahh repot
juga cinta ya, membingungkan. Ribet kan? Makannya jangan cinta-cintaan mulu,
itu coba liat hasil ujianmu gimana? Bye.
Hmm... Bagiku, aku kesulitan menangkap point of interest dari pesanmu ini Ken. Hal yang sangat membantuku dari tulisan ini adalah ajakan untuk segera mengakses mahasiswa.usd.ac.id guna melihat hasil UAS. Terima kasih Ken. Kamu luar biasa! Joss!
BalasHapusmaafkan aku mas damar, emang agak random sih hahaha
BalasHapus