Pagi itu kulihat dia melangkah
indah sembari menendang-nendang lembut udara yang tengah ia tapaki.
Masih ku ingat dengan jelas,
ketika itu aku masih semester 2 lalu.
Kelas kami berbeda, oh tidak, fakultas
kami berbeda.
Dia memperlihatkan gigi yang
indah kepada teman-temannya, tertawa begitu menyenangkan.
Sedangkan aku melihatnya dari balik punggungnya.
Bukan melihat lebih tepatnya menatap. Melamunkannya.
Bagiku, dia adalah lukisan Tuhan
yang paling indah dan senyumnya adalah bingkai termahal yang akan sulit
didapatkan. Jalannya sungguh menawan,
seolah-olah malaikat selau menyertai jejak kakinya. Sekalipun di atas tanah
yang tandus, langkahnya selalu menimbulkan kekaguman yang luar biasa.
Pada hari-hari yang biasa,
beberapa kali aku melihatnya melintas, ketika itu dia tidak melihatku.
Sedangkan aku, berusaha berlari sekalipun ketika itu kakiku sedang tidak waras.
Berlari kecil di lorong gedung, berusaha mendekat dan sekedar memanggil
namanya.
Kemudian dia menoleh dan
melemparkan senyum yang selalu aku inginkan, yang selalu ku usahakan hanya
untukku.
Hanya untukku?
Ya aku ini hanya temannya. Apa yang bisa kuharapkan selain senyum dari teman kepada teman.
Aku adalah temannya sejak
kami masih di bangku sekolah.
Siapa mengira akhirnya dia memiliki
cintanya yang sudah lama ditunggu itu. Sedangkan aku, aku tidak akan pernah
memiliki cintaku yang juga sudah lama aku tunggu.
Biarlah, aku sangat sangat
menikmati perasaan seperti ini.
Apakah itu menyedihkan? Tidak.
Yang menyedihkan adalah ketika rasa sayang itu, dia manfaatkan untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar