Minggu, 23 November 2014

Perjalananku. Ya, ini perjalananku..

“Kamu pulang naik apa, Ken?”

“Naik motor hehehe”

“Kok nggak naik bis aja, kan murah. Kalo nggak naik kreta”

“Enakan naik motor tau, bisa santai hahaha”

***

Udah banyak banget yang ngomong kaya gini ke aku. But, guys mari aku jelaskan mengenai hal-hal kadang aku sungkan untuk mengatakannya.

Jadi gini loh, masalahnya bukan pada kendaraan yang kamu pakai atau pada murahan mana.

Tapi, momentnya.

Aku sangat menikmati setiap tikungan, setiap pertempatan, setiap hal-hal yang terjadi di sepanjang perjalanan selama aku mengendarai motor.

Coba bayangin waktu kamu naik bis atau kreta. Pandangan kamu sangat terbatas, yang ujung-ujungnya tidur doang.

Tapi, kalo kalian naik motor kalian bisa bebas menangkap segala hal yang sedang terjadi di sekeliling kalian.

***

Yap, aku sangat sangat menikmati ketika harus berhenti di sebuah perempatan dan harus menunggu lampu merah berakhir dan digantikan lampu hijau.

Aku sangat menikmati segala suguhan alam yang aku lihat ketika melewati jalan di antara perbukitan. Hijaunya, pohonnya, bebatuannya dan aromanya.

Aku sangat menikmati ketika segerombolan orang yang sedang mengayuh sepeda dengan keluarga atau teman-teman mereka. Ayunan kakinya, berbalas senyum di antara gerombolan teman, bahkan kernyitan dahi yang mereka lakukan entah itu sedang kepanasan atau sedang kelelahan.

Bahkan aku sangat menikmati ketika seorang kakek tua yang berjalan dengan memanggul hasil sabitan rumput untuk ternak mereka dengan diikuti seorang nenek tua yang membawa ceret dan nampan yang berisi sesuatu yang dibungkus dengan daun pisang.

Dan satu hal yang aku nikmati lainnya adalah terpaan angin yang menyentuh kaki, kulit tanganku dan wajahku. Seolah membawaku ke sebuah tempat dimana beban adalah dosa dan bebas adalah sebuah surga.

***


Jadi begitulah mengapa aku sangat menikmati perjalanan pulangku. Masalahnya bukan kendaraannya atau murahnya. Tapi nilai-nilai yang didapat, moment yang dirasakan. Tidak perlu terburu-buru atau kamu akan melewatkan sesuatu yang mungkin saja bisa berguna bagi dirimu.

Jumat, 21 November 2014

satu prinsip yang harus KAMU pahami!

satu prinsip yang benar-benar aku tanamkan di dalam diriku mulai saat ini adalah :

APA YANG KAMU LAKUKAN KEPADA ORANG LAIN ADALAH APA YANG ORANG LAIN AKAN LAKUKAN KEPADAMU.

well, paham nggak apa yang aku omongin?

jadi gini loh, buat kalian yang merasa bahwa dirinya tidak seperti yang di atas.

kalo orang lain banyak yang care sama kamu, coba deh kamu liat dirimu sendiri. pasti kamu sudah sangat peduli dengan teman-temanmu. selalu ada timbal balik dari apa yang kamu lakukan. selalu ada karma (fyi, kata teman aku yang beragama Hindu, karma itu nggak cuma soal keburukan tapi juga soal kebaikan-kebaikan yang udah kamu tanemin ke orang lain). 

nah, kalo dari dalem diri kamu aja udah nggak peduli sama orang lain yaaah gimana orang lain mau dengan senang hati mempedulikanmu? anggep aja ini adalah karma buruk buat kamu! taik lah, nggak akan paham kau lah, bodat!

aku paham banget kalo prinsip aku pegang jauh berbeda dengan prinsip yang kamu pegang, boy. aku paham banget karena aku sudah berkali-kali merasakannya (atau mungkin nggak cuma aku). tapi coba deh kamu baca hal ini, kali aja bisa bikin otak kamu muter, paling nggak kamu sadar deh. nggak perlu ngubah sikap kamu ke aku tapi cukup SADAR! sadar sadar sadar sadar! perlu gimana lagi sih hah!?

yaudah lah kalo kamu nggak mau sadar, capek juga mau ngomong sama kamu. nggak paham sama maunya kamu. mumpung aku belajar psikologi dan kamu enggak, yaudah aku juga cukup memaklumi bagaimana gelagat kamu selama ini.

sak bahagiamu aja lah, boy. 

P. S semoga bahagia dengan pilihanmu sendiri. bhay! :* hastag : pelukerat 

Selasa, 18 November 2014

Hai Kamu

Hai kamu pria yang sangat aku cintai.
Apa yang sedang kamu lakukan saat ini? Sungguh aku sedang membangun tembok agar rasa rindu yang aku punya tidak membumbung tinggi menghancurkan segala yang sudah susah payah aku rekatkan dengan keberanian dan keikhlasan.

Hai kamu pria yang tidak pernah absen dari dalam pikiranku.
Apa yang sedang kamu rasakan saat ini? Apakah kamu sedang bahagia? Sedih? Datanglah padaku, ceritakan semua yang kamu rasakan. Aku akan mendengarkan segala keluh kesahmu seperti ibumu yang mendengarkan kamu merengek meminta mainan ketika kamu kecil dulu. Sungguh aku sangat mengkhawatirkan dirimu bahkan ketika kamu sedang cegukan.

Hai kamu pria yang selalu aku rindukan dalam hidupku.
Apa yang sedang kamu pikirkan saat ini? Kuliahmu? Keluargamu? Kekasihmu? Bagikanlah semua pikiran itu padaku. Sekali lagi datanglah. Bagikan apa yang menjadi beban pikiranmu. Sedikitpun aku tidak ingin kau memanggul beban itu. Aku akan membantmu sebisaku. Bagikan, aku akan membantumu sama seperti ayahmu membantumu berjalan ketika kamu masih kecil dulu.

Apakah kamu saat ini bahagia? Tak apa jika kau ingin menangis. Untuk ketiga kalinya aku katakan, datanglah ketika kamu membutuhkan aku sebagai bahumu. Ceritakan apapun, bahkan hal yang paling menyakitkan bagiku. Tak apa. Aku tau aku sanggup mendengarkannya.


Hai kamu, jangan sampai kau merasa sendiri. Ada aku. 

Rabu, 12 November 2014

Bob Marley

“You never know how strong you are, until being strong is your only choice.”  ― Bob Marley

“Only once in your life, I truly believe, you find someone who can completely turn your world around. You tell them things that you’ve never shared with another soul and they absorb everything you say and actually want to hear more. You share hopes for the future, dreams that will never come true, goals that were never achieved and the many disappointments life has thrown at you. When something wonderful happens, you can’t wait to tell them about it, knowing they will share in your excitement. They are not embarrassed to cry with you when you are hurting or laugh with you when you make a fool of yourself. Never do they hurt your feelings or make you feel like you are not good enough, but rather they build you up and show you the things about yourself that make you special and even beautiful. There is never any pressure, jealousy or competition but only a quiet calmness when they are around. You can be yourself and not worry about what they will think of you because they love you for who you are. The things that seem insignificant to most people such as a note, song or walk become invaluable treasures kept safe in your heart to cherish forever. Memories of your childhood come back and are so clear and vivid it’s like being young again. Colours seem brighter and more brilliant. Laughter seems part of daily life where before it was infrequent or didn’t exist at all. A phone call or two during the day helps to get you through a long day’s work and always brings a smile to your face. In their presence, there’s no need for continuous conversation, but you find you’re quite content in just having them nearby. Things that never interested you before become fascinating because you know they are important to this person who is so special to you. You think of this person on every occasion and in everything you do. Simple things bring them to mind like a pale blue sky, gentle wind or even a storm cloud on the horizon. You open your heart knowing that there’s a chance it may be broken one day and in opening your heart, you experience a love and joy that you never dreamed possible. You find that being vulnerable is the only way to allow your heart to feel true pleasure that’s so real it scares you. You find strength in knowing you have a true friend and possibly a soul mate who will remain loyal to the end. Life seems completely different, exciting and worthwhile. Your only hope and security is in knowing that they are a part of your life.” ― Bob Marley

Rabu, 05 November 2014

catatan cuaca

apa kabar bibir mu hujan, masih mencium tanah dan tak mendapatkan balas? 
aku telah menempuh umur dan meninggalkan kenangan yang berkarat di benakku.
bagaimana denganmu?
kudengar kau tak pernah lagi datang bersama warna.
hanya wajah dingin dan kaku yang biasa.
kau tak sedang dikejar-kejar malaikat maut, bukan?

aromamu terlalu memikat untuk ditepis. kau tahu itu?

apa kabar bibirmu hujan, masih menunggu sebuah ciuman yang mampu mengembalikanmu ke atas awan?
aku telah membuat kanvas tempat aku pernah melukismu puluhan hari yang lalu.
percumah.
tak ada yang bisa kutangkap darimu selain kekosongan yang enggan dimasuki.
kesunyian yang menolak apa saja.

tapi aromamu telah terlalu dalam terhirup. kuhirup. dan menyesakkan.

-BB-

di ambil dari koran harian Kompas, nggak tau jelas kapan terbitnya yang aku inget waktu itu aku masih SMA.