“Kamu
pulang naik apa, Ken?”
“Naik
motor hehehe”
“Kok
nggak naik bis aja, kan murah. Kalo nggak naik kreta”
“Enakan
naik motor tau, bisa santai hahaha”
***
Udah
banyak banget yang ngomong kaya gini ke aku. But, guys mari aku jelaskan mengenai
hal-hal kadang aku sungkan untuk mengatakannya.
Jadi
gini loh, masalahnya bukan pada kendaraan yang kamu pakai atau pada murahan mana.
Tapi,
momentnya.
Aku sangat
menikmati setiap tikungan, setiap pertempatan, setiap hal-hal yang terjadi di
sepanjang perjalanan selama aku mengendarai motor.
Coba
bayangin waktu kamu naik bis atau kreta. Pandangan kamu sangat terbatas, yang
ujung-ujungnya tidur doang.
Tapi,
kalo kalian naik motor kalian bisa bebas menangkap segala hal yang sedang
terjadi di sekeliling kalian.
***
Yap,
aku sangat sangat menikmati ketika harus berhenti di sebuah perempatan dan
harus menunggu lampu merah berakhir dan digantikan lampu hijau.
Aku sangat
menikmati segala suguhan alam yang aku lihat ketika melewati jalan di antara
perbukitan. Hijaunya, pohonnya, bebatuannya dan aromanya.
Aku sangat
menikmati ketika segerombolan orang yang sedang mengayuh sepeda dengan keluarga
atau teman-teman mereka. Ayunan kakinya, berbalas senyum di antara gerombolan
teman, bahkan kernyitan dahi yang mereka lakukan entah itu sedang kepanasan
atau sedang kelelahan.
Bahkan
aku sangat menikmati ketika seorang kakek tua yang berjalan dengan memanggul
hasil sabitan rumput untuk ternak mereka dengan diikuti seorang nenek tua yang
membawa ceret dan nampan yang berisi
sesuatu yang dibungkus dengan daun pisang.
Dan satu
hal yang aku nikmati lainnya adalah terpaan angin yang menyentuh kaki, kulit
tanganku dan wajahku. Seolah membawaku ke sebuah tempat dimana beban adalah
dosa dan bebas adalah sebuah surga.
***
Jadi
begitulah mengapa aku sangat menikmati perjalanan pulangku. Masalahnya bukan
kendaraannya atau murahnya. Tapi nilai-nilai yang didapat, moment yang
dirasakan. Tidak perlu terburu-buru atau kamu akan melewatkan sesuatu yang
mungkin saja bisa berguna bagi dirimu.