Jumat, 03 Juli 2015

lagi lagi begini

sampai lupa arti menunggu. sampai lupa maksud dari menunggu. sampai lupa bahwa aku sedang diabaikan. sepertinya aku terlalu menikmati ini semua dan lupa akhir dari apa yang sudah ku lakukan. yaah, aku hanya menikmati saat-saat bersamamu. bukankah itu sudah lebih dari cukup? apa lagi yang bisa diharapakan dari ini semua? iya, pertemanan, yang sering kamu katakan kepadaku.

Minggu, 14 Juni 2015

tanpa kata -- hipwee

Sudah tidak terlalu banyak hal yang rasanya bisa kutawarkan. Setelah selama ini siaga di sisi demi mengusap keringatmu yang datang tanpa permisi — perjuangan ini rasanya makin absurd untuk dijalani. Asal kau tahu, jika hati ini adalah kursi kayu panjang kau sudah melengkungkan dan menciptakan banyak retak di atasnya. Tanpa mau tahu apa yang kurasa.
“Aku ‘kan sudah bilang kalau aku begini. Kalau sudah tahu, kenapa kamu tidak pergi?”
Oh ayolah. Egois sekali dirimu. Berlindung di balik ke-aku-an yang rasanya tak bisa ditawar lagi. Seakan dengan bilang kau brengsek dari awal maka aku pasti tak akan sakit hati.
Kau pernah kuperjuangkan sampai menciptakan sembilu yang perihnya terasa sampai hari ini. Kini kuputuskan berhenti. Aku tak lagi mau jadi opsi. Lebih baik aku remuk hari ini, daripada terus berjuang demimu yang tak punya hati.


Impian bisa menggenapkanmu sudah kuakhiri. Rasanya kau juga tak perlu tahu, pernah ada gadis yang sedalam itu mencintai

Pernah ada gadis yang sedalam itu mencintai
Kau tak perlu tahu, pernah ada gadis yang sedalam itu mencintai via www.finchandfawn.com
Pernah ada gadis yang cintanya menaungimu serimbun itu. Berulang ranting teduhnya hendak dipangkas namun ia tak sampai hati, bercericit cemas. Lalu duduk lemas.
Kau juga tidak perlu tahu betapa banyak air mata dan harga dirinya tergadai.
Berenanglah dalam matanya, cobalah berjalan di hatinya jika bisa
kau akan menemukan jejakmu dimana-mana.
Setiap kali mengecup punggung tanganmu, ada haru yang muncul di hati gadis yang dulu milikmu. Sedang ia, menatap matamu saja tak mampu. Takut pancar bening lain terpantul di situ.
Gadis yang sama kini memilih dengan gagah — ia sudah berhenti bermimpi bisa menggenapkamu. Patah arang.
Sebab saat kau sedikit mencintainya biasanya sakit setelahnya akan berlipat ganda.


Sering-seringlah menyakitiku. Kau toh tak peduli ‘kan jika hati ini berderak keras karenamu?

Kau toh tak peduli jika hati ini berderak keras karenamu
Kau toh tak peduli jika hati ini berderak keras karenamu via www.finchandfawn.com
Sering-seringlah menyakitiku, Sayang. Kau sudah lebih dari tahu kalau hatiku tak lebih sebuah kursi kayu panjang melengkung di tengah, Ia hanya akan protes saat sudah benar-benar patah, berhenti punya guna. Tak berwujud lagi di mata manusia.
Selama masih bisa kau atur dudukmu miring sedikit, geser kanan-kiri bergantian tiap detik aku pasti masih kuat bertahan. Dan kau, Sayang, sudah memperhitungkannya lebih dulu.
Kemari, coba kulihat kertas burammu. Aku penasaran atas ekuasi handal sampai kapan nyeri ini sanggup ditahan
hingga “Kraaak!”, dua ia terbelah
Lalu kau segera beranjak, beringsut pindah.


Waktu membuat makin banyak peran di hidupku yang kau mainkan. Tapi bukan berarti lalu kau tak bisa kutinggalkan

Memang, kamu sudah menjelma memainkan banyak peran. Tapi bukan berarti tak bisa kutinggalkan
Memang, kamu sudah menjelma memainkan banyak peran. Tapi bukan berarti tak bisa kutinggalkan via www.finchandfawn.com
Denganmu aku sudah bermain gengsi, jatuh cinta, patah hati, sakit dan benci, tapi ujung-ujungnya jatuh cinta lagi. Denganmu, aku menjelma jadi gadis kecil manja yang minta diusap saat sakit pinggang. Atau wanita dewasa yang menyapu kamar dan memasak tanpa diminta. Dalam jejak kecil kita, aku hanya ingin jadi sebaik-baik wanita. Agar kamu bangga dan bahagia. Meski kebiasaan buruk dan kecerobohanku terus kau baca, tapi kasih terus tersedia.
Sekian lama kita bersama kau memang menjelma jadi kekasih, kakak, sahabat, teman diskusi dan bahkan rekan bertengkar. Aku mencintaimu tanpa banyak minta. Tak pernah terbersit komparasi dengan pria lain di luar sana.
Sesekali kau menemukanku merengek manja. Minta ditemani ke mana-mana, atau minta kau membuka lengan agar dadamu bisa jadi rumah tempatku pulang dan meletakkan kepala. Mengetahui fakta bahwa aku membutuhkanmu boleh membuatmu bangga. Tapi bukan berarti tanpa kehadiranmu hidupku tak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Kehilanganmu jelas membuatku mati rasa sementara. Namun aku bersumpah, selepas limbung beberapa saat lamanya kau akan menemukanku melenggang seperti biasa. Aku bertahan. Perlakuanmu selama ini membentukku jadi pejuang.


Aku pergi. Kini rasakanlah bagaimana lelahnya menghadapi hidup seorang diri. Asal kau tahu, kenop ke hatiku sudah diganti. Kau tak bisa masuk ke dalamnya lagi

Rasakanlah hidup seorang diri. Kau tak bisa masuk ke hatiku lagi
Rasakanlah hidup seorang diri. Kau tak bisa masuk ke hatiku lagi via www.finchandfawn.com
Kata orang, cara terbaik untuk menghargai arti sebuah rumah adalah dengan meninggalkannya. 
Pergi, membuatmu lepas dari cangkang yang bernama kenyamanan. Memaksamu tangguh menghadapi dunia tanpa perlindungan. Di luar, satu-satunya cara yang tersedia hanyalah berjuang. Mengerahkan seluruh kemampuan agar kamu tetap hidup. Belajar bertahan.
Kau tahu, mungkin kita hanya terlalu jengah setelah menghirup udara yang sama. Kau dan aku lupa kita pernah saling membutuhkan. Tak perlu lagi kugapai engkau jauh-jauh. Sebab kau sedekat pembuluh. Untukmu, aku sudah seperti nafas. Hingga ringan rasanya kau hempas. Kau dan aku seperti dua petualang yang kelelahan. Kita butuh meluruskan betis sebelum langkah kembali diayunkan.
Aku juga takut kedinginan. Enggan rasanya keluar dari hangat ruangan, untuk kemudian menggigil. Sendirian. Tapi dekapmu tak akan kuhargai, sebelum aku tahu repotnya harus memeluk diri sendiri. Kamu tak akan menghayati rasanya didampingi. Sebelum pijatan di bahumu tak lagi mudah ditemui.
Rasakan. Rasakan bagaimana lelahnya menghadapi hidup sendiri. Nikmati. Nikmati hari-hari penat tanpa pijatan, ketika keringatmu menetes deras tanpa ada yang menghentikan. Carilah rumah kontrakan, tempat singgah baru. Lalu hayatilah, apakah ia bisa melelapkanmu seperti aku? Bisakah ia merawatmu tanpa banyak gerutu, memastikan semua bersih dan rapi sebelum kau kembali membuka pintu?
Rumah ini perlu dibenahi dulu. Cat nya butuh diganti baru, lampu beranda juga sudah terlalu redup untuk kita santai duduk di depan pintu.
Sebelum kita benar-benar berkemas. Ingin kubisikkan kata pamungkas pelan-pelan di telingamu,
“Kunci kenop pintu itu sudah kuganti selamanya. Kau tak lagi bisa seenaknya membukanya kapan saja”

http://www.hipwee.com/hubungan/aku-sudah-berjuang-sekuat-ini-apakah-kau-memang-tak-punya-hati/

Rabu, 27 Mei 2015

tetap semangat

"tetap semangat kehidupan keras"

beberapa hari yang lalu aku mendengarkan lagu dimana kaliamat di atas menjadi bagian dari rangkaian lagu tersebut.

kehidupan keras, sebenarnya keras yang bagaimana yang bisa disebut keras? 

apakah mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk disebut keras?
apakah mengerjakan skripsi yang tidak kunjung selesai disebut keras?
apakah menghadapai keluaraga yang 'berantakan' disebut keras?

teman ayahku pernah berkata padaku, "kamu lahir dan dibesarkan di lingkungan yang keras. kuatlah nak"
aku lahir di keluarga yang keras?
sebatas apa itu  keras? sejauh mana hal tersebut dapat dikatakan keras?

kadang hidup memberikan jalan berbeda antara diriku dengan teman-teman yang aku kenal. yah, sebagian besar. tapi, ya sekali lagi tetap semangat ya, nak. nak!




Rabu, 29 April 2015

#halahh_ini_gombal

aku takut.
jika kali ini hanya aku yang merasakannya.
aku menyayanginya, tapi dia tidak.

aku takut.
jika kali aku melakukannya dengan serius.

aku takut.
jika aku akan mengalami hal yang sama dengan mereka.

aku takut.
jika masa lalu tak mampu membuatku menyerah untukmu,

aku takut.
jika masa depan sudah kamu rencankan dan bagaimana bisa aku mengagalkannya?

aku takut.
jika takutku membuatmu pergi.

#halah

Jumat, 10 April 2015

aku hanya

Sore itu kira-kira pukul 17.00, matahari senja tidak terlihat.

Oh, ternyata gerimis kembali hadir di antara kita. Menciptakan ruang nostalgia yang indah. Petak-petak sawah melebar di depan wajah kita. Kamu di sampingku, sungguh-sungguh di sebelah kananku. Begitu dekat, begitu rapat. Bahkan sampai aroma keringatmu dapat ku cium. Begitu dingin namun juga begitu hangat. Aku, kamu dan hujan.

“Hujan tidak hanya membelah tiap petak bumi namun juga membelah tiap petak hati di antara kita. Kamu memang ada, namun tak akan pernah ku biarkan satu petak kecil dalam hatiku dapat kau tanami. Kamu memang ada, namun tak akan pernah ku biarkan kamu mendapatkan satu meterpun untuk mendapatkan hasil panen. Aku tak akan pernah membiarkan gadis petani sepertimu menjadi penggarap atas hatiku.

Jauh, jauh disana. Dewi Bumi sudah memberiku satu benih yang benar-benar ku jaga bahkan ketika dia sudah melupakanku. Jadi, bagaimana bisa Dewi Bumi dibandingkan dengan gadis petani sepertimu?

Dewi itu..

Dalam wujud wanita jelita tak beribarat. Padahal sungguh sudah ku serahkan setiap petak hatiku untuk direbahkan dalam pangkuannya.

Oh iya..
Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau miliki wahai gadis petani yang tak tau malu dan menginginkan diriku?”


Begitu katanya, begitu tanyanya.

Rabu, 28 Januari 2015

hai, aku sedang jalan-jalan

Kemarin, seorang bocah yang tak ku kenal tiba-tiba saja datang kepadaku sambil sesenggukan dan sedikit ingus menghiasi hidungnya yang merah serta mata menghitam. Asumsiku saat itu karena bocah itu sudah terlalu lama menangis.

Dia mengayun-ayunkan tangannya nan mungil bermaksud membuatku menunduk untuk mendengarkan bisikannya. Kemudian ku turuti permintaannya, ku tundukkan leherku dan menyodorkan daun telingaku ke arahnya. Dari bibirnya yang mungil, bocah tersebut membisikkan kata-kata yang tak bisa ku pahami artinya. Kedengaranya seperti mantra dari negeri seberang.

1 menit

2 menit

Semakin lama aku semakin terbuai oleh mantra yang dia ucapkan, semakin lama semakin membuatku tidak sadar bahwa aku sedang dibawanya menuju sebuah dimensi yang lain selain dimensi dimana semestinya aku berada. Bahkan aku bingung sendiri, otak sepertinya semakin sulit untuk digunakan saat itu. Aku dimana? Aku sedang berada dimana? Ini bukanlah tempat dimana semestinya aku ada. Begitu bisikku dalam hati. Jantungku seakan semakin keras bekerja, bahkan bisa saja bocah tadi mendengar bagaimana irama jantungku saat itu.

Di dimensi itu banyak sekali warna-warna hingga aku tak tau disebut warna apakah tersebut karena aku tak pernah melihat sebelumnya. Ternyata bocah yang ku kira hilang tadi tiba-tiba menggandeng tanganku. Sedikit kaget karena aku tidak tau darimana dia datang. Dibawanya aku berkeliling tempat tersebut. Kakinya lincah diayunkan, jemarinya kuat menggenggam tanganku yang sedikit kebesaran bagi tangannya.

Semakin lama tempat ini semakin menyenangkan, bocah tadi tidak berhenti cengengesan. Suaranya memenuhi sudut-sudut ruangan tempat ini. Rasanya tak ingin pergi dari sini, rasanya tak ingin keluar. Terlena oleh rasa dan berbagai macam gelora yang mengisi dalam dada yang sempit ini. Meniti setiap jengkal syaraf dalam tubuh, dari kaki hingga kepala. Menyenangkan dan enggan untuk keluar. Dunia ini ternyata jauh lebih menyenangkan dari pada di tempat asalku.

Akhirnya aku dan bocah tadi duduk karena lelah berjalan-jalan. Merenggangkan otot tangan dan kaki yang kencang karena jarang diajak untuk bergerak terlalu lama. Satu hal yang aku lupa tanyakan sejak kedatangan bocah itu, “Siapa namamu?”. Seketika bocah itu menatapku dengan sorot mata yang lembut kemudian tersenyum “Rindu”. Ku lanjutkan pertanyaanku yang sepertinya agak sulit dia jawab, “Ini dimana?”. Kemudian senyumnya semakin lebar, “Ini ruanganku dimana aku biasa tinggal”. Aku mengangguk, paham. “Oh, jadi ini Ruang Rindu ya?”.


Ruang rindu.

Senin, 19 Januari 2015

MALAM PILU KALA ITU


Satu malam sunyi, seusai tangis ini. Entah hari apa saat ini, aku pun tak paham apakah saat ini aku masih hidup atau sudah tak bernyawa bersama dengan kekeruhan hidup. Sejenak aku terduduk kebingungan, ku amati ruangan tersebut. Sekali lagi aku kembali menghirup wangi itu. Ku hirup lamat-lamat, seperti anjing mengendus-endus tulang terakhirnya. Pucuk-pucuk indra pembau terus menyampaikan stimulus sampai ke benda kecil di dalam kepala ini. Apakah ini sebenarnya? Menyebalkan sekali, aku harus turun ke lantai yang dingin dan lembap ini. Menyedihkan.

Ku cari pusat wangi itu, di setiap sudut hati, disetiap celah-celah rasa. Sekali lagi aku beranikan diri untuk membuka setiap memori tentangnya. Semakin dicari, semakin lara. Semakin diinginkan, semakin pedih. Menyenangkan namun menyakitkan. Ahh.. ternyata ini berasal darinya. Kamu. Datang lagi.

Bagaimana bisa kamu datang seolah lupa apa yang sudah kamu katakan pada hari yang lalu. Bagaimana bisa kamu datang seolah tidak memiliki alasan untuk menyesal. Bukankah terakhir kemarin aku sudah berkata padamu untuk tidak datang lagi? Tak bisakah kamu bersikap seolah-olah aku hanya debu di atas pundakmu? Ada namun tak berarti. Jadi, mengapa harus datang lagi malam ini?

Kemudian kau menyuruhku untuk tetap ada, namun tetap saja dirimu tak akan pernah menjadi pelipur laraku. Kau menyuruhku untuk tetap denganmu, namun tetap saja hadirmu hanya menjadi angan kecil bagiku. Seolah-olah kebingungan menjadi makananku setiap mulutku terbuka dan memulai percakapan konyol bersamamu dalam ruang sempit ini.

Lagi-lagi hal ini yang aku tanyakan padamu, “Apakah aku ini?”. Hingga berbuih darah mulutku menanyakan hal yang sama setiap kali malam tiba. Namun dengan tangkasnya kamu segera melempar bola itu lagi dan berkata “Cari saja yang lain, sesuai kemampuanmu!”. Ku sambut jawaban itu dengan helaan nafas yang sangat panjang, hingga sisa-sisa udara dalam dadaku habis. Dari nafas tersebut terdengar sangat kentara bagaimana amarah, kekecewaan dan cinta meronta-ronta untuk dilepaskan.

Apakah begitu tidak berharganya sebuah cinta di matamu, sedangkan aku manusia yang tidak berharga ini begitu mengagungkan cinta dan kamu membuangnya ibarat sampahlah yang ada di hadapanmu ini. Seolah tidak menyadari bahwa angin yang sering bertiup, membelai wajahnya dan membuatnya kegirangan adalah aku. Ahh ternyata..

Tentu kamu masih ingat satu hal yang pernah aku katakan bahwa saat kamu bahagia, kupu-kupu di dalam perutku berterbangan sehingga membuatku lebih bahagia hanya dengan melihat kebahagianmu. Bahagia dengan senyummu sehingga memperlihatkan satu gigi mungilmu yang sangat ku suka serta setiap jengkal kata-kata yang kamu ucapkan kepadaku walaupun itu bukan tentang aku. Menyenangkan melihatmu seperti itu namun tak dapat dipungkiri bahwa menyakitkan jika terlalu lama melihatnya. Terlalu membingungkan semua ini.

Jujur harus aku akui bahwa mengenal cinta itu menyenangkan namun menyakitkan dan menyakitkan namun menyenangkan. Mari sedikit bermain dengannya. Cinta hanya sebuah permainan sedangkan ketulusan merupakan bagian yang lebih penting untuk ku bagikan kepadamu.

Setelah percakapan yang melelahkan ini, akhirnya kamu memutuskan untuk pulang. Terbesit rasa pilu yang diam-diam menyeruak di dalam rongga dadaku ini. Keputusan sudah menjadi keputusan meskipun ragu menjadi temannya. Apa yang harus saya lakukan? Berulang kali aku bertanya dalam diriku. Apa yang bisa saya lakukan? Apakah ini terlalu memalukan bagimu? Sempat tadi ku lihat wajahmu yang sedikit memerah karena aku berkata jujur mengenai hal mengerikan yang disebut cinta tersebut. Merahnya pipimu tak dapat ku artikan apakah karena malu, ataukah marah atau justru saat itu kau sedang mengingat kembali cerita indah mengenai gadis yang sangat kau cintai itu. Tidak ada yang tau.

Malam semakin malam, semakin larut dalam kebimbangan. Ku putuskan untuk membuka bungkus rokok yang sudah ku sumpahi untuk tidak akan pernah ku apitkan dikedua belah bibirku. Namun, janji hanya sebuah janji sampai kau berada pada ujung jurang keputus asaan. Ku hirup dalam-dalam sampai bara api di ujung batang rokok tersebut semakin memerah dan membakar sedikit tubuhnya yang ramping. Rasanya sakit, kembali aku bingung apakah ini sesak karena ampas rokok yang ku hirup barusan ataukah ampas kenyataan yang baru saja ku telan sejak kehadiranmu. Terbatuk-batuk aku dibuatnya. Semakin perih, semakin sesak. Mengapa kesendirian bisa begitu menyakitkan seperti ini? Mengapa begitu memilukan? Jika ini cinta, sungguh aku tak ingin merasakannya. Jika ini cinta, sungguh aku akan berubah pikiran untuk tidak mengenalnya sebelum aku mengenalmu.


Pagi datang. Ku temui diriku sudah tidur terlentang berada di sebuah ruangan yang tidak aku ketahui. Ini bukan di kamar tidurku. Tidak pernah sebelumnya aku kemari. Setelah ku amati, aku tertawa terbahak-bahak seolah menyadari hal yang besar terjadi dalam diriku. Aku dibawa ke dalam ruangan yang sama sekali tidak akan pernah kamu temui sayang, ruangan yang disebut kehampaan. 

Selamat datang hai kamu yang mendewakan cinta. Hidup karena cinta dan matipun karena cinta. Enyahlah menjadi butiran-butiran yang tak berarti.




20/01/2015