Beberapa hari yang lalu, saya menyempatkan diri untuk menonton film karya bangsa sendiri. Wanita Tetap Wanita yang sudah dirilis pada 12 September 2013. Rasa penasaran begitu saja datang ketika membaca judul film tersebut. Film yang disutradarai oleh 4 sutradara muda yakni Irwansyah, Didi Riyadi, Reza Rahardian, Teuku Wisnu ini cukup menyentuh hati saya, selain karena saya sendiri adalah seorang wanita film ini juga memiliki makna yang cukup mendalam. Bagaimana perjuangan kaum wanita dalam menghadapi dunianya di sekitarnya cinta dan karir. Berikut beberapa kutipan yang menurut saya menarik :
“God made man stronger but not necessarily more
intelligent. He gave women intuition and feminity. And, used properly, that
combination easily jumbles the brain of any man I’ve ever met.”
Farah Fawcett
Farah Fawcett
Dadaku membusung
bangga dengan segala sebutan kami.
Dari gadis, perawan
tua hingga sebutan janda bahkan pelacur.
Namun, tulang tetap
tulang tetap menggigil tanpa diselimuti daging.
Walaupun kokoh
menopang tubuh, kami pun sama.
Bagaimanapun
kuatnya kami Wanita Tetap Wanita.
Aku, Kami, dunia
mungkin berkata kita rapuh seperti kristal.
Biarkan mereka menilai seberapa
kuatnya kita.
Perempuan.
Menjadi perempuan
bukanlah sebuah pilihan tapi ini adalah takdir.
Kami senang
mengambil keputusan atas hidup kami sendiri dan menjadi bahagialah yang aku
sebut sebagai pilihan.
Sesekali patah,
terpuruk namun selalu ada kekuatan extra untuk bangkit kembali.
Begitulah cara kami
menghadapi dunia, pun saat hati jatuh cinta.
***
“anda percaya
cinta?”
“cinta itu bukan
kepercayaan, tapi perasaan mbak. Urusan percaya nggak percaya ya itu udah
urusan hati.”
“satu pria dan satu
wanita bersatu, apa bisa disebut cinta?”
“pertanyaan mbak
ini sama dengan 1 + 1 apa sama dengan 2? Jawabannya pasti 2 kalo kita sepakat
dalam bilangan perpuluhan, itu kata sudjiwo tedjo loh mbak.”
“apakah kebahagian
harus selalu berhubungan dengan memiliki pasangan? Saya sih nggak pernah bisa
menemukan sisi estetis dari cinta, ya tentu saja selain bercinta. Terus dimana
esensinya?”
“cinta dan kebencian
adalah unsur kekuatan ya selain tanah, api, air dan udara. Kalo mau ditanya
esensinya, alam semesta jawabannya. Socrates pernah bilang ‘cobalah dulu baru cerita, pahamilah dulu
baru menjawab, pikirkanlah dulu baru berkata, dengarkanlah dulu baru beri
penilaian dan bekerjalah dulu baru berharap.’ Hehe kacrut-kacrut gini saya
lulusan filsafat, mbak. Gelar sarjananya cuma untuk keren di ijazah.”
“Mbak, jangan
dijadiin beban hati itu bukan bilangan pasti.”
***
“ini kali ketiga
saya berpenumpang embak.”
“nggak usah gr,
bukan berarti kita jodoh.”
“loh mbak, siapa
yang lagi ngomongin jodoh. Jodoh bukan dikirim Tuhan dengan tidak sengaja tapi
seseorang yang datang dan kita perjuangkan dan ada tombol klik di sini ketika
bertemu dan jodoh itu nggak bisa dipaksa loh mbak. Ada cinta, cita dan karsa.
Jujur mbak, nggak banyak orang yang paham soal ini termasuk keluarga besar
saya.”
***
“eh denger ya, gue
nggak berusaha ngerebut atau nyakitin siapapun. I love him and he loves me. Jadi, nggak ada kok yang ngerebut cinta
siapapun karena cinta nggak bisa direbut, Yu. Apa yang gue punya sama dia itu
indah dan nyata. Hal yang nggak pernah gue rasain selama 2 tahun sama Iko. Apa masalah kalo
gue mencintai bang Andi? Apa mencintai seseorang yang udah memiliki pasangan
adalah sebuah kejahatan?”
***
“kadang dalam hidup
apa yang kita pikir atau kita rasa itu adalah yang terbaik buat kita belum
tentu itu adalah yang bener-bener terbaik buat kita.”
***
“Nurma belajar
bahwa untuk mencintai seseorang kita nggak perlu menyakiti orang lain. Semoga
nggak ada ibu Sri yang lain ya, bang. Dan biarlah bang Andi tetap menjadi bang
Andi, guru les privat yang pernah Nurma taksir.”
***
Bukankah lautan dan
gunung bersepakat menjaga bumi, namun tetap saja ombak tiba-tiba datang
mengganggu pantai.
Lalu kemana kaki
ini ku langkahkan?
Cinta selalu bisa
memiliki aku walaupun aku tidak selalu mendapatkan cinta.
Kami menyala dalam
kegelapan.
Kami berbisik dalam
keheningan.
Kami gagah dalam
kelembutan.
Kami bisa bicara
tanpa suara.
Ketika pidana
datang menghardik cinta kami patuh pada takdirnya.
Ketika piatu
menangis dan meremukkan hati kami hadir dalam pelukan.
Terima kasih sudah membaca :)


