Rabu, 29 Januari 2014

Wanita Tetap Wanita


Beberapa hari yang lalu, saya menyempatkan diri untuk menonton film karya bangsa sendiri. Wanita Tetap Wanita yang sudah dirilis pada 12 September 2013. Rasa penasaran begitu saja datang ketika membaca judul film tersebut. Film yang disutradarai oleh 4  sutradara muda yakni Irwansyah, Didi Riyadi, Reza Rahardian, Teuku Wisnu ini cukup menyentuh hati saya, selain karena saya sendiri adalah seorang wanita film ini juga memiliki makna yang cukup mendalam. Bagaimana perjuangan kaum wanita dalam menghadapi dunianya di sekitarnya cinta dan karir. Berikut beberapa kutipan yang menurut saya menarik :


“God made man stronger but not necessarily more intelligent. He gave women intuition and feminity. And, used properly, that combination easily jumbles the brain of any man I’ve ever met.”
Farah Fawcett

Dadaku membusung bangga dengan segala sebutan kami.
Dari gadis, perawan tua hingga sebutan janda bahkan pelacur.
Namun, tulang tetap tulang tetap menggigil tanpa diselimuti daging.
Walaupun kokoh menopang tubuh, kami pun sama.
Bagaimanapun kuatnya kami Wanita Tetap Wanita.
Aku, Kami, dunia mungkin berkata kita rapuh seperti kristal. 
Biarkan mereka menilai seberapa kuatnya kita.
Perempuan.
Menjadi perempuan bukanlah sebuah pilihan tapi ini adalah takdir.
Kami senang mengambil keputusan atas hidup kami sendiri dan menjadi bahagialah yang aku sebut sebagai pilihan.
Sesekali patah, terpuruk namun selalu ada kekuatan extra untuk bangkit kembali.
Begitulah cara kami menghadapi dunia, pun saat hati jatuh cinta.

***

“anda percaya cinta?”

“cinta itu bukan kepercayaan, tapi perasaan mbak. Urusan percaya nggak percaya ya itu udah urusan hati.”

“satu pria dan satu wanita bersatu, apa bisa disebut cinta?”

“pertanyaan mbak ini sama dengan 1 + 1 apa sama dengan 2? Jawabannya pasti 2 kalo kita sepakat dalam bilangan perpuluhan, itu kata sudjiwo tedjo loh mbak.”

“apakah kebahagian harus selalu berhubungan dengan memiliki pasangan? Saya sih nggak pernah bisa menemukan sisi estetis dari cinta, ya tentu saja selain bercinta. Terus dimana esensinya?”

“cinta dan kebencian adalah unsur kekuatan ya selain tanah, api, air dan udara. Kalo mau ditanya esensinya, alam semesta jawabannya. Socrates pernah bilang ‘cobalah dulu baru cerita, pahamilah dulu baru menjawab, pikirkanlah dulu baru berkata, dengarkanlah dulu baru beri penilaian dan bekerjalah dulu baru berharap.’ Hehe kacrut-kacrut gini saya lulusan filsafat, mbak. Gelar sarjananya cuma untuk keren di ijazah.”

“Mbak, jangan dijadiin beban hati itu bukan bilangan pasti.”

***

“ini kali ketiga saya berpenumpang embak.”

“nggak usah gr, bukan berarti kita jodoh.”

“loh mbak, siapa yang lagi ngomongin jodoh. Jodoh bukan dikirim Tuhan dengan tidak sengaja tapi seseorang yang datang dan kita perjuangkan dan ada tombol klik di sini ketika bertemu dan jodoh itu nggak bisa dipaksa loh mbak. Ada cinta, cita dan karsa. Jujur mbak, nggak banyak orang yang paham soal ini termasuk keluarga besar saya.”

***

“eh denger ya, gue nggak berusaha ngerebut atau nyakitin siapapun. I love him and he loves me. Jadi, nggak ada kok yang ngerebut cinta siapapun karena cinta nggak bisa direbut, Yu. Apa yang gue punya sama dia itu indah dan nyata. Hal yang nggak pernah gue rasain selama 2 tahun sama Iko. Apa masalah kalo gue mencintai bang Andi? Apa mencintai seseorang yang udah memiliki pasangan adalah sebuah kejahatan?”

***

“kadang dalam hidup apa yang kita pikir atau kita rasa itu adalah yang terbaik buat kita belum tentu itu adalah yang bener-bener terbaik buat kita.”

***

“Nurma belajar bahwa untuk mencintai seseorang kita nggak perlu menyakiti orang lain. Semoga nggak ada ibu Sri yang lain ya, bang. Dan biarlah bang Andi tetap menjadi bang Andi, guru les privat yang pernah Nurma taksir.”

***

Bukankah lautan dan gunung bersepakat menjaga bumi, namun tetap saja ombak tiba-tiba datang mengganggu pantai.
Lalu kemana kaki ini ku langkahkan?
Cinta selalu bisa memiliki aku walaupun aku tidak selalu mendapatkan cinta.
Kami menyala dalam kegelapan.
Kami berbisik dalam keheningan.
Kami gagah dalam kelembutan.
Kami bisa bicara tanpa suara.
Ketika pidana datang menghardik cinta kami patuh pada takdirnya.
Ketika piatu menangis dan meremukkan hati kami hadir dalam pelukan.

Terima kasih sudah membaca :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar