Hallo semuanya..
Malam ini saya mau ngomongin tentang hal-hal yang sedikit serius, mengingat juga aku lebih sering membicarakan tentang hal yang tidak mutu. Tentu saja "Cinta" akan tetap menjadi topik utamanya.
Pulang kampung.
Pulang kampung sudah menjadi tradisi yang wajib dilakukan oleh mahasiswa dan mahasiswi maupun karyawan yang sedang merantau jauh dari kampung halamannya.
Begitu juga dengan saya yang tinggal jauh dari Gombong, kota kecil dengan keajaiban bahasanya.
Aku kuliah di Jogja.
Jadi, setelah menempuh ujian dan beberapa kegiatan Mapasadha serta banyak hal-hal yang memuakkan selama beberapa minggu di Jogja akhirnya aku bisa pulang. Gombong.
Aku pulang juga nggak sendirian, aku bareng Kak Yosi yang kebetulan juga satu kost sama aku.
Aku berangkat sekitar pukul 12.00.
Kebetulan hari itu mendung cukup tebal dengan gerimis menemani ketika roda motor terus berputar.
Aku bawa carrier. Kak Yosi bawa carrier juga. Bisa dibayangkan, dua orang gadis kekar menerobos gerimis dengan tas yang besar. Tiba-tiba di ring road hujan turun deras, segera saja kami memakai jas hujan yang sudah kami persiapkan.
Sama kayak cinta. Di jalan bakal banyak kendala, bakal kena ujan. Tergantung kita siap apa enggak buat menghadapi ujan-ujan yang bakal dateng. Mau terus nerobos ujan atau bakal neduh sampai waktu yang lama. Buat aku sendiri, cinta itu tentang siap atau tidak.
Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya hujan berhenti. Tapi kami terus terjang hujan tanpa melepas jas hujan. (kalo perlu kamu tau, jas hujan yang aku pake sampe compang-camping kena angin).
Ngantuk.
Capek.
Dingin.
Sudah menjadi sahabat yang setia ketika menempuh perjalanan itu.
Kami berhenti sebentar di derah Kutoarjo, menikmati indahnya dunia dengan cara yang sedikit berbeda. Makan bakso. Indahnya dunia. Panas dan pedas.
Perjalanan kami lanjutkan kembali. Sekitar pukul 15.00 kami memulai perjalanan dan disinilah petualangan kami bermula.
Jalan menuju rumah sedang banjir besar (sampai disiarkan di TV juga kok). Satu-satunya jalan yang bisa kami lewati hanyalah dengan jalur alternatif. Lewat jalur selatan (Ambal - Mirit).
Jalanan rusak paraaaahh.
Lumpur dimana-mana.
Gerimis.
Macet.
Hampir jatuh. Kepleset.
Sampe aku marah-marah sama Kak Yosi. Kak Yosi sampe aku marah-marahin.
Sama kayak cinta. Mana mungkin mulus-mulus aja. Seberapa tahan kamu sama masalah-masalah yang dateng. Mau dijalanin nggak? Mau pulang "rumah" nggak?
Kadang aku jalan kaki dulu. Takut jatuh, soalnya lumpurnya tebel banget. Emang capek tapi asik banget. Keren banget. Ngerasa kalo mau pulang itu butuh banget perjuangan.
Kanan. Kiri. Kanan. Kiri. Gelap.
Sama kayak pulang ke "rumah" kamu, butuh perjuangan, butuh kesabaran, butuh ketelatenan buat bisa sampe sana.
Setelah kita sampe jalan raya, jalan yang udah mulus akhirnya kita berenti sebentar. Capek banget, tapi puaaass. Ketika itu jam sudah menunjukkan pukul 19.00. Rekor yang cukup lama bagi kita untuk menempuh rute Jogja - Gombong.
Sampai di Kebumen aku harus melanjutkan perjalanan seorang diri. Aku jalan pelan-pelan buat mastiin kalo aku bakal sampe rumah dengan selamat.
Pelan-pelan. Nggak usah buru-buru. Mau sampe "rumah" kamu dengan selamat kan? :D
Yaudah gitu aja. Mungkin ini sedikit tips buat kamu yang masih jombloseperti saya.
Siapa tau ini sedikit berguna.
Postingan ini juga terinspirasi melalui perbincangan malam dengan salah satu teman baru saya.
Bahagia bisa melepaskan apa yang sudah lama tertahan.
Terima kasih, Boy :)
Malam ini saya mau ngomongin tentang hal-hal yang sedikit serius, mengingat juga aku lebih sering membicarakan tentang hal yang tidak mutu. Tentu saja "Cinta" akan tetap menjadi topik utamanya.
Pulang kampung.
Pulang kampung sudah menjadi tradisi yang wajib dilakukan oleh mahasiswa dan mahasiswi maupun karyawan yang sedang merantau jauh dari kampung halamannya.
Begitu juga dengan saya yang tinggal jauh dari Gombong, kota kecil dengan keajaiban bahasanya.
Aku kuliah di Jogja.
Jadi, setelah menempuh ujian dan beberapa kegiatan Mapasadha serta banyak hal-hal yang memuakkan selama beberapa minggu di Jogja akhirnya aku bisa pulang. Gombong.
Aku pulang juga nggak sendirian, aku bareng Kak Yosi yang kebetulan juga satu kost sama aku.
Aku berangkat sekitar pukul 12.00.
Kebetulan hari itu mendung cukup tebal dengan gerimis menemani ketika roda motor terus berputar.
Aku bawa carrier. Kak Yosi bawa carrier juga. Bisa dibayangkan, dua orang gadis kekar menerobos gerimis dengan tas yang besar. Tiba-tiba di ring road hujan turun deras, segera saja kami memakai jas hujan yang sudah kami persiapkan.
Ngantuk.
Capek.
Dingin.
Sudah menjadi sahabat yang setia ketika menempuh perjalanan itu.
Kami berhenti sebentar di derah Kutoarjo, menikmati indahnya dunia dengan cara yang sedikit berbeda. Makan bakso. Indahnya dunia. Panas dan pedas.
Perjalanan kami lanjutkan kembali. Sekitar pukul 15.00 kami memulai perjalanan dan disinilah petualangan kami bermula.
Jalan menuju rumah sedang banjir besar (sampai disiarkan di TV juga kok). Satu-satunya jalan yang bisa kami lewati hanyalah dengan jalur alternatif. Lewat jalur selatan (Ambal - Mirit).
Jalanan rusak paraaaahh.
Lumpur dimana-mana.
Gerimis.
Macet.
Hampir jatuh. Kepleset.
Sampe aku marah-marah sama Kak Yosi. Kak Yosi sampe aku marah-marahin.
Kanan. Kiri. Kanan. Kiri. Gelap.
Sampai di Kebumen aku harus melanjutkan perjalanan seorang diri. Aku jalan pelan-pelan buat mastiin kalo aku bakal sampe rumah dengan selamat.
Yaudah gitu aja. Mungkin ini sedikit tips buat kamu yang masih jomblo
Siapa tau ini sedikit berguna.
Postingan ini juga terinspirasi melalui perbincangan malam dengan salah satu teman baru saya.
Bahagia bisa melepaskan apa yang sudah lama tertahan.
Terima kasih, Boy :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar